Home / Anti Korupsi / Kisah Gratifikasi Rp. 47.000,-

Kisah Gratifikasi Rp. 47.000,-

REP | 13 January 2013 | 11:44.  Saya sempat berfikir, apakah sebegitu parahnya  kondisi budaya dan praktik korupsi di negeri kita ini, sampai sampai KPK memberi penghargaan kepada para pelapor gratifikasi ? Sejauh mana efektipitas kegiatan pelaporan gratifikasi tersebut dapat mengurangi atau bahkan meredam budaya korupsi yang terjadi sekarang ini ?

Gratifikasi dalam arti luas yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. (Wiki.org)

Sebagaimana berita yang dilansir tempo hari, KPK telah mengadakan acara pemberian penghargaan kepada para pelapor gratifikasi tahun 2012. Yang sempat menarik perhatian saya adalah seorang karyawati sebuah Bank milik pemerintah Daerah Jawa Barat, yang mana statusnya juga masih belum diangkat sebagai pegawai tetap, tetapi mau melaporkan gratifikasi yang diterimanya itu meski hanya sejumlah Rp. 47.000,- !.

Tersebutlah seorang karyawati, Regina Maharani (26) pegawai Kantor Cabang Pembantu di Pangandaran, suatu ketika sedang menjalankan tugasnya melayani sejumlah setoran dari seorang nasabah. Penyetoran uang tersebut terjadi dalam beberapa tahap, setelah seluruhnya disetorkan dan dari hasil perhitungan, ternyata Regina menemukan kelebihan uang setoran sebesar Rp. 47.000,-. Reginapun segera mengembalikan kelebihan uang setoran tersebut kepada nasabahnya. Tapi pemilik uang justru menolak menerima kembalian uang tersebut, seraya berkata : “Sudah diambil saja mbak kembaliannya,” ujar Regina menirukan si nasabah kala itu.

Merasa itu bukan haknya, Regina juga ngotot tidak mau menerima uang kembalian itu, dan berupaya mengembalikan kepada pemiliknya, dia pun kembali memanggil si nasabah itu, namun nasabah itu tidak memperdulikan dan tetap pergi meninggalkannya. Regina pun bingung, sebab dia selalu teringat pesan dari orangtuanya agar tidak menerima apapun yang bukan menjadi haknya.

Regina kemudian menyampaikan  hal itu kepada atasannya, dan disarankan agar Regina melaporkannya kepada KPK perihal tersebut. Meski harus menempuh prosedur yang  rasanya tidak seimbang dengan besarnya uang yang cuma Rp. 47.000, itu, Reginapun tetap saja bersikeras, bahwa itu bukan masalah besar kecilnya uang tetapi telah bertentangan dengan hati nuraninya.

Alhasil, dari hasil laporannya itu, beberapa waktu kemudian Regina dipanggil oleh KPK untuk datang dan menerima penghargaan sebagai pelaporan gratifikasi terkecil pada tahun 2012.

Dalam cerita ini, ternyata masih ada yang punya itikad baik untuk berpegang teguh pada prinsip tidak menerima apapun yang bukan haknya. Tapi lebih jauh, apakah itu hanya sekedar cerita yang hanya sekedar mengundang simpati saja dan sama sekali tak memberikan dampak nyata untuk merubah  perilaku korupsi para pejabat kita.

Regina adalah seorang calon pegawai tetap, yang masih berusia sangat muda, dan merasa takut menerima uang yang bukan haknya. Bila kita memandang secara positip, dengan nilai uang yang kecil saja dia sudah ketakutan, apalagi bila uang yang diterimanya itu sampai jutaan atau lebih. Tapi disisi lain juga terpikir oleh saya, seandainya niat Regina ini dipunyai oleh semua pejabat kita. Tentu tak akan ada lagi orang yang mau menerima gratifikasi terlepas dari besar atau kecilnya nominal yang ada.

Tapi kenyataan mungkin berkata lain, meski nilai tertinggi gratifikasi yang dilaporkan pada tahun 2012 lalu hingga mencapai Rp. 700 Juta sekali transaksi dan ada ribuan kasus pelaporan gratifikasi yang dicatat oleh KPK, budaya korupsi di negeri inipun juga masih saja beraksi.

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 60 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.