Home / Anti Korupsi / KPK = Tim Pemburu Tikus ?

KPK = Tim Pemburu Tikus ?

Ketika saya menyaksikan sebuah berita di televisi tentang seorang pejabat atau birokrat yang tertangkap basah dan dijebloskan kedalam penjara oleh anggota KPK terkait kasus korupsi, saya jadi teringat sebuah cerita.

Begini ceritanya..

Dibelakang rumah saya ada sebuah peternakan ayam yang cukup besar. Terdapat ribuan ekor ayam dalam kandang disana, terdiri dari ayam petelur, pedaging berbagai ukuran dan umur. Tak ada kendala lain yang berarti didalam operasional usaha, kecuali satu masalah yang sudah lama ada hingga kini tak mampu diselesaikan, yaitu serangan hama tikus. Tikus yang jumlahnya bisa sampai ratusan ekor itu menyerang pada malam hari yaitu menyantap stok pakan ayam. Meski pakan ayam sudah berusaha disimpan dengan baik, tikus tikus itu masih saja mampu mencurinya.

Memang lihai sekali tikus tikus itu, mereka bisa tau caranya mencuri makanan yang tersimpan didalam almari yang terkunci rapat. Berbagai cara dilakukan mereka, antara lain dengan diam diam masuk melalui sela-sela sempit atau secara terang terangan dengan menggerogoti pintu hingga berlobang. Setelah diameter lobang cukup besar, barulah mereka beramai ramai masuk melalui lobang itu dan dengan leluasa mencuri pakan ternak yang ada.

Tikus memang binatang cerdik namun serakah. Bahkan stok pakan ayam saya bisa habis tak bersisa dimakan oleh tikus tikus itu, bila tak segera dicegah dan diberantas. Sudah banyak biaya yang terbuang sia sia untuk memberantas serangan tikus. Berbagai cara di coba namun hasilnya tidak cukup signifikan. Bukannya berkurang, malah jumlah tikus justru makin banyak.

Biaya yang paling mahal adalah ketika saya mendatangkan Tim Pemburu Tikus. Sebuah Tim yang terdiri dari beberapa penembak profesional ini bekerja pada malam hari. Masing masing menenteng senapan angin kaliber 4,5 MM yang dilengkapi dengan teropong (tele) infra merah dan peredam suara.

Pada suatu malam, tim ini mulai bekerja. Dengan menggunakan teknologi infra merah, meski dalam keadaan gelap, mereka tetap bisa melihat dengan jelas gerakan tikus tikus yang keluar untuk mencari makan. Para pemburu dengan mudah memantau setiap gerakan tikus, sedangkan si tikus sama sekali tidak mengetahui dan tak sadar bahwa dirinya sedang di awasi.

Tiba saatnya mencari tikus sebagai sasaran tembak. Diantara ratusan tikus yang sedang berkeliaran, nampak beberapa yang perutnya buncit karena sudah kebanyakan makan. Meski perutnya sudah penuh, masih saja tikus itu mencuri makanan untuk dibawa ke sarangnya. Hal ini tentu membuat geram siapapun yang melihat termasuk para pemburu. Tikus inilah sebagai sasaran utama mereka.

Hingga tiba saatnya melakukan serangan balasan kepada tikus-tikus itu. Seluruh anggota Tim pemburu sudah bersiap dengan senapan yang terkokang. Sasaran utamanya adalah tikus-tikus yang perutnya gendut, sebab tikus tikus ini sudah terlalu banyak makan barang curian.

Satu per satu tikus tikus itu diawasi kemanapun dia bergerak. Seekor tikus gendut nampak sedang asyik makan dengan lahapnya. Tikus itu kini masuk dalam target sasaran tembak. Jari telunjuk pemburu sudah berada pada tuas pelatuk, yang setiap saat tinggal ditarik dan ‘dor’…

Sebutir timah panas dimuntahkan dari mulut senapan sang pemburu dan langsung menghunjam jantung si tikus. Yang terjadi kemudian dengan mudah ditebak. Si Tikus seketika terjungkal dan sekarat.

Begitulah yang terjadi berulang ulang pada malam itu. Keesokan harinya puluhan tikus yang tertembak itu dikumpulkan dan dimasukkan kedalam keranjang untuk dibuang. Nampak wajah ceria dai para pemburu menatap hasil buruannya itu, sambil tersenyum puas menerima honor atas kerja kerasnya semalaman.

Beberapa hari sejak kejadian itu, memang serangan tikus sudah banyak berkurang. Ya jelas saja karena sudah banyak yang tertembak mati.

Namun setelah beberapa bulan berselang, serangan hama tikus itu kembali datang, bahkan dengan jumlah yang lebih besar.

Disini saya kemudian berpikir dan bertanya dalam hati.

Untuk apa mengeluarkan biaya besar dengan mendatangkan Tim Pemburu Tikus, bila masalahnya tetap saja ada dan justru semakin besar dampaknya ?

Ternyata tikus tikus itu sama sekali tak pernah takut, padahal dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan temannya tertembak ketika sedang asyik makan barang curian. Mereka malah makin berani dan mengajak teman dan kroninya beramai ramai datang untuk mencuri pakan ayam. Mungkin yang terpikir di benaknya adalah “Kapan lagi ? Mumpung ada kesempatan.. !”.

Lalu apa yang bisa dibanggakan oleh anggota tim pemburu dengan menembak puluhan tikus dalam waktu semalam ? Ini tentu kerja yang tak terlampau sulit, biasa biasa saja. Apalagi mereka dilengkapi dengan senapan canggih berteknologi infra merah yang mana didalam gelap, dapat melihat dengan terang. Hebatnya lagi, sasaran tembak tak pernah menyadari bahwa dirinya yang akan jadi sasaran penembakan berikutnya. Bila hanya segitu saja hasilnya, tentu tak butuh ilmu dan keahlian tinggi, asal punya rasa tega membunuh tikus, sudah bisa melakukannya, bukan ?

Tujuan sesungguhnya mendatangkan tim pemburu adalah untuk memberantas tikus, bukan sekedar menembaki tikus tikus gendut yang tertangkap basah sedang makan barang curian. Memang ada hasilnya, yaitu banyak tikus gendut yang mati tertembak, tapi bagaimana dengan tikus tikus lainnya yang masih banyak berkeliaran ?

Apakah harus setiap malam begadang menanti datangnya rombongan tikus untuk ditembak mati malam itu juga ?

Mengapa hingga kini masih saja berkeliaran tikus tikus dimalam hari, bahkan jumlahnya makin banyak ?.

Apakah dipikir bahwa dengan menembaki tikus tikus gendut itu akan membuat jera tikus-tikus lainnya ? Kenyataannya tidak. Bahkan mereka makin berani dan kreatip mencari cara dan trik lainnya dalam rangka mencuri pakan ayam.

Saya kemudian baru menyadari, bahwa saya sendiri yang bersalah. Mengapa yang saya datangkan adalah Tim Pemburu Tikus, bukannya Tim Pemberantas Tikus.

Seharusnya yang benar adalah saya harus minta bantuan Tim Ahli Pemberantas Tikus, bukan sekelompok penembak jitu.

Memberantas tikus bukanlah dengan cara ditembaki satu per satu seperti yang sudah dilakukan hingga saat ini, tapi seharusnya dibuatlah suatu perencanaan sistem dan strategi yang mampu mencegah perkembangbiakan dan memutus rantai siklus kehidupan tikus.

Bila rantai siklus kehidupan tikus sudah terputus, maka tentu saja tikus takkan bisa berkembang biak lagi. Dengan demikian pada gilirannya nanti, saya tak akan pernah melihat lagi ada tikus yang berkeliaran, sebab tikus sudah tak ada lagi, minimal didalam area peternakan saya.

Salam.

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 51 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *