Home / Apresiasi / ZOHRI Awalnya Tak Minat Olahraga Lari

ZOHRI Awalnya Tak Minat Olahraga Lari

ZOHRI, nama lengkapnya Lalu Muhammad Zohri adalah seorang pemuda yang berasal Lombok Utara NTB, telah berhasil menguir prestasi luar biasa di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 pada Rabu (11/7). Di kejuaraan yang digelar di Finlandia tersebut, Zohri berhasil meraih medali emas nomor lari 100 meter dengan membukukan catatan waktu 10,18 detik.

Hidup dalam kondisi serba kekurangan dan minim fasilitas latihan tak menjadi penghalang bagi pemuda yatim piatu itu untuk mengukir prestasi. Selama ini, siswa SMP Negeri 1 Pemenang, hidup dalam kondisi serba kekurangan bersama kakaknya di sebuah gubug berdinding gedeg yang sebagian bolong termakan usia.

Awalnya tak pernah berminat menjadi atlet lari, apalagi bermimpi menjadi pelari tercepat dunia. Ketika duduk di bangku kelas 7 di SMP 1 Pemenang, Zohri dikenal sebagai siswa penggila sepak bola. Oleh guru dan teman-teman sebayanya, ia dinilai sebagi pemain sepak bola yang cukup handal.

Motivasi Sang Guru

Rosida, guru olah raganya, menuturkan bahwa Zohri merupakan siswa yang sangat menggemari mata pelajaran olah raga, khususnya sepak bola. Sehingga ketika diminta untuk bermain bola, dia sangat gembira dan bersemangat.

Menurut guru jebolan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram ini, awalnya  tak pernah tertarik untuk menekuni cabang olah raga atletik, khususnya lari. Sebagai guru olah raga, Rosida melihat potensi besar yang dimiliki, khususnya di cabang olah raga atletik, terutama ketika melihat teknik lari yang baik dan postur tubuhnya yang atletis.

Perempuan asal Kabupaten Sumbawa ini kemudian mencoba membimbing dan mengarahkan Zohri agar bersedia berlatih untuk menjadi pelari berprestasi. Namun yang diharapkan untuk lebih tekun berlatih dan mengasah bakatnya untuk lari itu terlihat tidak berminat. Padahal, sejak masih duduk di bangku SD, dia sudah menunjukkan prestasi di berbagai lomba lari.

Rosida mengaku hampir putus asa karena berbagai upaya yang dilakukan untuk membimbing Zohri agar bersedia menekuni cabang olah raga atletik, tidak berhasil. Karena, satu-satunya olah raga yang disenanginya hanyalah bermain bola.

Zohri kerap mengikuti pertandingan sepak bola di sekolah hingga di kejuaraan tingkat kecamatan. Bahkan, ia merupakan salah satu pemain andalan di sekolah maupun kecamatan.

Wanita guru olah raga bertangan dinigin ini pun pantang menyerah. Rosida membujuk Zohri terus menerus agar bersedia lebih giat berlatih lari. Upaya yang dilakukannya mulai Zohri di kelas 7 hingga kelas 8 SMP itu belum juga berhasil.

Berbuah Manis

Perjuangan panjang dan tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil. Rosida berhasil membujuk Zohri untuk latihan lari lebih tekun. Sprinter asal Lombok Utara ini mulai giat berlatih dan mulai menunjukkan prestasi.

Rosida mengakui fasilitas latihan untuk cabang olah raga, termasuk atletik di sekolah mereka relatif terbatas. Namun, berbagai keterbatasan itu tidak mengurangi ikhtiarnya untuk terus membina dan membimbing Zohri untuk menjadi pelari berprestasi.

Ia meyakini bakat alam dan kedisiplinan Zohri dalam berlatih menjadi faktor utama bagi pemuda itu untuk meraih berbagai prestasi, pada ajang yang lebih tinggi nasional dan internasional. Kecintaan Zohri pada olahraga lari rupanya mulai tumbuh.

Rosida menuturkan salah satu kisahnya melatih Zohri. Suatu ketika ia berjanji untuk melatih Zohri. Namun karena saat itu hujan lebat, dia datang terlambat. ”Setelah dicari-cari, ternyata Zohri sedang latihan lari di pinggir pantai di tengah guyuran hujan lebat,” kenang Rosida.

Keberhasilan Rosida membimbing Zohri untuk menekuni dunia lari agaknya tak terlepas dari sikapnya. Selain memposisikan sebagai guru, Rosida juga menempatkan diri sebagai ibu, kakak dan teman dari Zohri.

Rosida mengaku senang, bahagia dan bangga atas keberhasilan Zohri menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional dan kini dielu-elukan sebagai pelari tercepat. Zohri pun sekarang disiapkan untuk membela tim merah putih di ajang Asian Games.

Rosida mengaku optimistis bahwa Zohri akan kembali mengukir prestasi dengan memboyong medali emas di ajang Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang. Rosida mengakui pada awal mulai berlatih, Zohri kerap lari bertelajang kaki karena saat itu ia belum memiki sepatu. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berlatih.

Dalam kesederhanaan, tak ada yang mau peduli

Namun di balik keberhasilannya meraih medali emas, rupanya lelaki 18 tahun ini masih tinggal di sebuah rumah yang kondisinya cukup renta. Rumah yang berada di Dusun Karang Pangsor, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat tersebut sangat sederhana.

Dinding pun dominasi dari kayu dan bilik bambu. Pada bagian dalam rumah pun bahkan banyak dinding dilapis koran. Sementara bagian atapnya juga terbuat dari bambu.

Sebelumnya, pihak keluarga sudah pernah mengajukan bantuan kepada Kepala Desa, sayangnya nama keluarga Zohri tak pernah keluar. Dalam rumah yang sederhana ini atlet Zohri tinggal bersama ketiga kakaknya. Satu mimpi Zohri adalah membeli tanah dan rumah jika kelah sudah mampu.

Mengingat prestasi yang mengharumkan bangsa berbagai apresiasi untuk Zohri muncul. Presiden Joko Widodo kini menginstruksikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono untuk dapat memperbaiki rumah yang ditempati Zohri.

Berikut  potret rumah renta tempat tinggal Zohri di Lombok, Jumat (13/7).

1. Tampak rumah pada bagian luar. Rumah yang berada di Lombok Timur ini sangat sederhana.

zohri

2. Presiden Jokowi merasa bangga atas prestasi yang ditorehkan Zohri untuk Indonesia. Untuk itu Presiden memerintahkan Menteri PU dan Perumahan Rakyat untuk segera merenovasi rumah di kampung halamannya di Lombok.

3. Sedangkan Bupati Lombok Utara, H Najmul Ahyar juga akan membantu memperbaiki rumah Zohri. Selain itu, seperti dilansir brilio.net dari antaranews, Najmul berkeinginan merekrutnya sebagai calon pengawai negeri sipil.

4. Ini merupakan lemari penyimpanan baju sejak SMP. Di dalam lemari ini ia menyimpan baju sehari-hari, termasuk baju sekolahnya.

5. Karena rumah dibangun dengan kayu, sehingga diperlukan koran untuk menutupi beberapa bagian. Alas tidur yang terbuat dari kayu hanya dilapisi dengan karpet sederhana.

6. Komandan Korem 162/Wira Bhakti menjelaskan TNI AD segera merenovasi rumah Zohri untuk menjadi rumah yang lebih layak. Tak hanya itu, jika Zohri telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMA, TNI AD akan memberikan peluang jalur khusus sebagai Bintara TNI AD.

7. Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berjanji merenovasi rumah yang ia tinggali bersama kakak-kakaknya tersebut. Menpora akan menggunakan uang pribadi untuk urusan renovasi tersebut. Kempora juga akan menjamin pendidikannya.

foto: antaranews dan Facebook/Surya Prabowo

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 26 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.