Home / Article Placement / Sukanto Tanoto Menjadi Perintis Industri Kehutanan di Indonesia

Sukanto Tanoto Menjadi Perintis Industri Kehutanan di Indonesia

Image Source: Insiderge.com

Pengusaha Sukanto Tanoto merupakan salah satu pebisnis tersukses di Indonesia. Ia menjadi panutan banyak pihak karena mampu merintis industri kehutanan di negeri kita.

Sukanto Tanoto lahir di Belawan, Medan, pada 25 Desember 1949. Saat ini, anak pertama dari tujuh bersaudara ini memegang kendali Royal Golden Eagle (RGE) sebagai pendiri sekaligus chairman.

Kesuksesan di RGE inilah yang membuatnya disegani para pengusaha lain. Bagaimana tidak, perusahaannya ini berkembang dari perusahaan skala lokal menjadi korporasi kelas internasional dengan aset mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat.

Padahal, RGE bergerak di sektor yang mulanya tidak banyak orang yang mau menekuninya. Kini RGE beroperasi di berbagai bidang bisnis sumber daya alam dengan anak-anak perusahaan di industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, hingga minyak dan gas.

Saat ini, anak-anak perusahaan Sukanto Tanoto tidak hanya ada di Indonesia. Mereka juga ada di Tiongkok, Brasil, Kanada, serta Spanyol. Berkat itu, ia mampu membuka kesempatan bekerja bagi sekitar 60 ribu orang.

Sebelumnya sektor sumber daya alam khususnya industri kehutanan dianggap sebelah mata oleh banyak pengusaha lain. Mereka menilai bidang ini tidak menjanjikan. Selain itu, potensinya kecil dan susah untuk dijadikan bisnis jangka panjang.

Namun, Sukanto Tanoto mampu membuktikan sebaliknya. Ia mampu melihat potensi tersembunyi dalam industri kehutanan di negeri kita. Setelah itu, ia juga sanggup memaksimalkan untuk mendapatkan hasil terbaik.

Buahnya terlihat saat ini. Industri kehutanan tidak lagi dipandang remeh. Bagi Indonesia, kontribusinya untuk perekonomian bangsa sedemikian besar. Lihat saja, data yang dipaparkan oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Mereka menilai jika dikelola dengan baik, industri ini mengundang investasi hingga 1.778,33 triliun rupiah. Bukan hanya itu, sektor kehutanan dipercaya bakal bisa menyerap tenaga kerja  mencapai 9,34 juta orang.

Tidak heran, pemerintah sangat mendukung perkembangannya. Wakil Ketua APHI, Irsyal Yasman, menyatakan Presiden Joko Widodo percaya bahwa sektor kehutanan bisa menjadi pendukung perekonomian bangsa yang vital pada masa mendatang.

Oleh karena itu, Isral menyebutkan bahwa presiden memberi arahan agar hutan tanaman industri (HTI) dan hutan tanaman rakyat (HTR) dijadikan penopang untuk membangkitkan sektor kehutanan guna mendukung perekonomian nasional. “Presiden juga meminta asosiasi kehutanan ikut bersinergi dan berkoordinasi dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) terkait dengan pengelolaan lahan gambut dan kebakaran,” tambah Isral di Suara.com.

Perhatian Presiden Joko Widodo memperlihatkan potensi besar industri kehutanan. Beruntung saja ada sosok seperti Sukanto Tanoto. Jika tidak, mungkin sampai sekarang sektor tersebut masih jalan di tempat atau malah belum dimaksimalkan.

Sukanto Tanoto memulai RGE pada 1967 dengan nama Raja Garuda Mas. Ketika itu, ia mengawalinya dengan menekuni produksi kayu lapis. Sekarang bidang tersebut sudah tidak ditekuni oleh RGE. Namun, itu menjadi momen penting bagi Sukanto Tanoto untuk menerjuni industri kehutanan.

Kayu lapis dipilih sebagai bidang bisnis pertama yang dijalani bersama RGE. Ia merasa potensi Indonesia sebagai negara di kawasan tropis yang subur disia-siakan.

Dulu, Indonesia tidak ada yang memproduksi kayu lapis. Pengusaha di negeri kita hanya memilih mengekspor kayu gelondongan belaka. Hal ini membuat sering kali kayu lapis sulit diperoleh di dalam negeri. Indonesia harus mengimpor dari Singapura, Jepang, atau Tiongkok untuk mendapatkannya. Tentu saja, harga yang ditebus menjadi mahal.

Hal ini membuat Sukanto Tanoto gusar. Pasalnya, ia tahu Indonesia memiliki lahan luas yang bisa ditanami pohon yang menghasilkan kayu sebagai bahan baku kayu lapis. Kebetulan, ia tahu bahwa sebentar lagi pemerintah Indonesia bakal melarang ekspor kayu gelondongan. Ini membuat tekadnya membangun pabrik kayu lapis bulat.

SEMAKIN MENDALAMI INDUSTRI KEHUTANAN

Image Source: Asianagri.com

Tahun 1975 menjadi momen penting bagi Sukanto Tanoto. Saat itulah pabrik kayu lapisnya resmi beroperasi. Dengan demikian, ia mulai terjun ke industri kehutanan yang mulanya tidak dipahaminya.

Sukanto Tanoto menyelesaikan pembuatan pabrik selama 10 bulan. Ini lebih cepat dua bulan dibanding target. Ketika itu, Presiden Indonesia Soeharto hadir untuk meresmikan bersama dengan sejumlah menteri.

Sejak saat itu, Sukanto Tanoto semakin menekuni industri kehutanan lebih dalam lagi. Sesudah kayu lapis, ia merintis bisnis kelapa sawit di Indonesia.

Pada era 1970-an, Sukanto Tanoto sempat pergi ke Malaysia. Di sana ia melihat bahwa banyak perusahaan asal Inggris yang sukses membuat perkebunan kelapa sawit. Hal itu membuat mereka mampu memproduksi minyak kelapa sawit dan mengelola bisnis dengan baik.

Fakta itu membuat Sukanto Tanoto berpikir keras. Ia tahu bahwa kondisi alam Malaysia dan Indonesia tidak berbeda jauh. Namun, negeri kita punya jumlah penduduk yang jauh lebih banyak, hingga sepuluh kali lipat.

Hal ini membuatnya sadar bahwa ada potensi besar di bisnis kelapa sawit. Jumlah penduduk yang lebih banyak berarti terdapat pasar yang lebih besar. Oleh sebab itu, pada 1979, ia segera mendirikan Asian Agri yang menjadi anak perusahaan RGE yang bergerak di industri kelapa sawit.

“Saya melihat Sime Darby, Guthrie, dan perusahaan kelapa sawit asal Britania Raya lain beroperasi dengan baik. Tapi, saya kemudian menyadari bahwa lahan di Indonesia lebih murah dan pasarnya sepuluh kali lebih besar dari Malaysia. Jadi, mengapa tidak mencoba bisnis kelapa sawit,” ujar Sukanto Tanoto.

Mulanya langkah Sukanto Tanoto mengundang cibiran. Ia dinilai gila karena bisnis kelapa sawit dianggap tidak berprospek. Sukanto Tanoto tidak menampik. Ia memang mengakui untuk berbisnis kelapa sawit butuh “napas” yang panjang. Pasalnya, berbeda dengan bidang usaha lain, dalam industri kelapa sawit diperlukan kesabaran dan kerja keras yang lebih.

Hal itu tidak berlebihan. Lihat saja, pengusaha harus membangun pabrik dan perkebunan terlebih dulu. Sesudah dibangun, hasil tidak langsung diperoleh. Mereka mesti menunggu sekitar tiga tahun sebelum kelapa sawit bisa dipanen.

Namun, ternyata kesabaran dan kegigihan Sukanto Tanoto berbuah manis. Asian Agri yang didirikannya menjadi salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Per tahun, Asian Agri mampu menghasilkan crude palm oil hingga satu juta ton.

Bukan hanya itu, Asian Agri juga menghadirkan berkah bagi para petani. Dengan menjalin kemitraan bersama petani plasma, ada sekitar 30 ribu kepala keluarga yang mendapat manfaat dari kerja sama tersebut. Perekonomian mereka meningkat seiring hasil perkebunan yang membaik berkat dukungan perusahaan Sukanto Tanoto.

Kerja sama juga dilakukan dengan para petani swadaya. Pada tahun 2018, Asian Agri menargetkan ada lahan seluas 40 ribu hektare yang tercakup ke dalam kemitraan dengan petani swadaya. Ini akan menyeimbangan luas lahan yang dikelola sendiri dengan yang dikelola petani.

Selama ini, Asian Agri memiliki lahan perkebunan seluas 160 ribu hektare. Dari luas itu, 60 ribu hektare di antaranya dikelola oleh petani plasma. Berarti 100 ribu hektare yang ditangani sendiri oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut. Namun, tambahan 40 ribu hektare dari petani swadaya membuat luas lahan yang diolah oleh petani menjadi 100 ribu hektare. Sama persis dengan milik Asian Agri.

Setelah ini, Sukanto Tanoto semakin serius dalam menerjuni industri kehutanan. Ia merintisnya dan membuka langkah bagi pengusaha lain untuk ikut berkecimpung di sana.

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 11 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Jenis Perabotan Kantor Untuk Bisnis

Saat anda memiliki sebuah gedung yang akan anda jadikan sebagai kantor baik untuk dipergunakan sendiri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.