Home / Birokrasi / Jika Anda Ingin Menguasai Jakarta, Ini Caranya

Jika Anda Ingin Menguasai Jakarta, Ini Caranya

menguasai jakartaKeberadaan AHOK sebagai calon petahana (Incumbent) pada Pilkada DKI tahun depan, adalah masalah besar bagi pihak-pihak tertentu. Mengapa demikian? Sebab mereka merasa bahwa AHOK sebagai pejabat terlalu kaku dan lurus. AHOK seakan tampil jadi malaikat yang nggak doyan duit.  Padahal sebagaimana diketahui, DKI Jakarta ini adalah tambang uang terbesar di Indonesia. Oleh karena itulah maka para oknum nakal sangat ingin menguasai Jakarta dengan harapan bisa mengais uang dengan cara haram.

Jakarta memang meyimpan potesi tambang uang yang luar biasa besar. Bagaimana tidak? Hal ini bisa di ketahui dengan adanya dana operasional untuk Gubernur DKI saja hingga sebesar Rp. 5 Milyard per bulan. Bisa dibayangkan seberapa besar dana yang dikelola oleh Gubernur DKI, yang mungkin saja perputaran transaksinya hingga mencapai ratusan Triliun Rupiah per Tahun. Dengan dana sebesar ini, bila Gubernur mau, sangatlah mudah untuk diselewengkan.

Bagi mereka yang selama ini sudah terbiasa ‘mencuri’ uang melalui proyek-proyek besar yang dikelola oleh Eksekutif dan permainan regulasi melalui Legislatif, selama AHOK masih menjabat sebagai Gubernur DKI, mereka seakan berada di dalam musim paceklik yang panjang. Mereka tak bisa lagi ‘bermain’ sebab AHOK telah menutup semua pintu bagi siapapun yang coba-coba ingin mencuri uang dari APBD DKI Jakarta.

Segala macam cara ditempuh oleh pihak-pihak yang menginginkan untuk menguasai Jakarta. Isu SARA pun digulirkan, karena AHOK kebetulan warga keturunan Tionghoa sekaligus non muslim. Penilaian atas perilaku AHOK yang keras dan tegas dalam memberantas korupsipun sengaja mereka belokkan menjadi perilaku kasar dan tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat. Demikian pula dengan kebijakan AHOK dalam merelokasi warga yang bermukim di wilayah bantaran kali dan kumuh dengan tujuan untuk membenahi wajah Jakarta agar dapat tampil lebih rapi dan indah,  juga mereka persepsikan sebagai tindakan AHOK yang menindas rakyat kecil.

Agar memperoleh kekuatan besar, maka para oknum yang ingin menguasai Jakarta itu membentuk semacam koaliasi dengan mengatasnamakan kelompok ANTI AHOK. Dengan bergabungnya orang-orang yang telah termakan propaganda negatif tentang AHOK itu, mereka beranggapan bahwa meraka akan mampu menjegal AHOK pada Pilkada mendatang.

Kelompok ANTI AHOK dan AHOK HATERS tersebut berusaha menggalang kekuatan sebesar mungkin untuk menghentikan perjalanan karir AHOK. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa mereka justru semakin menunjukkan adanya upaya pembodohan publik dan memberi contoh perilaku negatif dalam menjalankan kehidupan bernegara dan demokrasi yang sehat.

Media apapun yang ada, baik cetak, televisi hingga media sosial, mereka manfaatkan dengan satu tujuan yaitu “YANG PENTING BUKAN AHOK” Merekapun beramai-ramai turun ke jalan bukan untuk mendukung calon mereka sendiri, namun sebatas menunjukkan kebencian mereka kepada figur AHOK.

Bagi warga Jakarta yang mampu berpikir dengan sehat, hanya tersenyum menyaksikan polah tingkah mereka di jalanan karena terlihat aneh dan memalukan.  Mereka yang turun ke jalan itu tak lebih dari sekumpulan orang bodoh yang mau saja diperalat oleh kelompok tertentu yang ingin menguasai Jakarta.

Semua upaya yang mereka lakukan untuk menguasai Jakarta dengan cara-cara seperti diatas sesungguhnya tak akan ada hasilnya. Sebab posisi AHOK sudah terlalu kuat dalam arti sebagian besar warga sudah terlanjur percaya dan yakin bahwa AHOKlah satu-satunya pejabat yang dapat dipercaya untuk memimpin Jakarta. Mengapa demikian?

Sebab AHOK memiliki karakter yang tak dimiliki oleh pejabat manapun di negeri ini. AHOK berani membela kebenaran, jujur dan adil dalam mengambil kebijakan dan tak punya keinginan sedikitpun untuk memperkaya dirinya sendiri. AHOK seakan tampil sebagai malaikat penolong bagi warga Jakarta untuk membebaskan Jakarta dari para koruptor dan membenahi Jakarta hingga mampu tampil sejajar dengan kota-kota metroplitan lainnya  di negara maju.

Dibalik itu semuanya, sesungguhnya ada sebuah cara ampuh yang bisa ditempuh apabila ingin menguasai Jakarta, yaitu dengan mendukung seorang Wakil Gubernur yang mendamping AHOK. Mengapa Wakil Gubernur?

AHOK meski nanti  terpilih menjadi Gubernur DKI untuk periode yang kedua, namun sesungguhnya hanya sementara waktu saja, atau maksimal sampai tahun 2019, sebab saat itu sedang dilaksanakan Pemilu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. AHOK dapat diprediksikan akan menjadi Calon WaPres mendampingi Presiden Jokowi. Sebagai pasangan Presiden/WaPres,  JOKOWI dan AHOK tentu tak akan ada lagi yang bisa mengalahkannya dan sudah bisa dipastikan akan memenanglan Pemilu 2019 nanti.

Nah bila hal ini terjadi, maka kursi Gubernur DKI secara otomatis akan diduduki oleh wakilnya bukan? Dengan demikan maka Jakarta nantinya akan dipimpin oleh Wakil Gubenur AHOK sesuai dengan kostitusi.

Berdasarkan analisis ini, maka bagi pihak-pihak yang ingin menguasi Jakarta adalah sebuah peluang emas yang semestinya mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Daripada sibuk sendiri dengan cara-cara yang memalukan yang sebatas hanya ingin mengalahkan atau menolak AHOK yang tak ada hasilnya, lebih baik pasang strategi agar bisa menyelipkan sebuah nama sebagai Wakil Gubernur DKI.

Ini  hanyalah sebatas analisis imajiner yang bertujuan utuk menguasai Jakarta. Namun demikian sesungguhnya yang terpenting bukanlah sekadar bisa menjadi Gubernur DKI, tapi bagaimana menjadi pemimpin Jakarta yang baik sebagaimana yang diinginkan oleh warga. Biarpun seorang pejabat menjadi Gubernur Jakarta tapi bila perilkunya negatif maka tak lama, pasti akan lengser juga.

Apalagi bila AHOK sudah jadi Wakil Presiden Jokowi, meski mantan wakilnya sekalipun, bila Gubernur DKI ketahuan berperilaku negatif terutama melakukan korupsi di Jakarta, AHOK tak segan untuk segera mengambil tindakan untuk memecatnya.

Jadi. apapun yang bakal terjadi, sepanjang AHOK masih menjadi pejabat negara, dipastikan tak akan ada lagi pejabat yang melakukan korupsi di negeri ini.

.oOo.

Penulis : Doni Bastian

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 993 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Remunerasi PNS DKI: Tunjukkan Prestasi Dulu

Ahok dinilai terlalu terburu-buru dengan keputusannya memberi tambahan gaji (remunerasi) kepada PNS DKI, sebab masih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.