Home / Figur / Ahok dan Risma, Prototype Pejabat Yang Berani Membela Rakyat

Ahok dan Risma, Prototype Pejabat Yang Berani Membela Rakyat

ahok dan rismaNegeri ini sudah terlalu lama di bungkam oleh para pejabat yang menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan pribadi dan membiayai partai atau golongannya sendiri. Di depan mereka tampak seolah bekerja demi kepentingan rakyat, namun pada kenyataannya dibelakang, malah sebaliknya. Mereka secara sistematis merencanakan dan menyusun konspirasi dengan kroni-kroninya dengan tujuan mencuri uang rakyat melalui APBN/APBD.

Bukan rahasia lagi, bila sekelompok oknum pejabat serakah, baik yang duduk di kursi legislatif, eksekutif dan yudikatif membentuk semacam mafia atau kartel. Tujuan mereka jelas dan pasti, yaitu berusaha membuat agar kekuasaan mereka seluas-luasnya dan selama-lamanya. Rakyat seringkali tak menyadari bahwa mereka sesungguhnya hanya menonton sebuah panggung sandiwara politik. Rakyat seolah terbuai dengan janji-janji manis untuk membungkus tujuan mereka sesungguhnya yaitu mengeruk pundi-pundi kekayaan negara untuk membiayai golongannya.

Sekarang sudah tiba waktunya untuk mencari para pejabat yang punya hati bersih dan berani melawan para mafia politik dan penjahat berdasi dan memberantas segala bentuk korupsi yang menyengsarakan rakyat. Satu dua nama pejabat yang kini tampil dengan berani membuka tirani kebobrokan mental para penguasa, malah justru banyak dimusuhi. Segala usaha para pejabat yang berniat mulia seakan dicari-cari kesalahannya dan berusaha dijegal agar tidak terlalu lama tampil di panggung pejabat publik.

Sebut saja nama-nama pejabat bernyali dan tak pernah punya rasa takut sedikitpun seperti Gubernur DKI Ahok dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, yang harus rela berjuang sendirian karena tak memperoleh dukungan dari partai yang dulu sempat mengusung namanya untuk menjadi calon pejabat daerah. Setelah keduanya berhasil menduduki posisi tertinggi dalam struktur Pemerintahan Daerah, mereka tetap bertahan dengan niat yang lurus yaitu bekerja untuk membela kepentingan rakyatnya. Tapi apa tanggapan dari kelompok tertentu yang dulunya mendukung, kini perlahan langkah mereka mundur dan kemudian bubar jalan.

Keberanian bicara cerminan keberanian hati

Pejabat yang berani, bukanlah sekadar punya niat dalam hati, tapi juga harus berani mewujudkan program-program yang pro rakyat dan tak takut melawan segala bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh oknum pejabat lainnya. Koruptor adalah musuh besar rakyat yang tak kasat mata. Rakyat harus melawan dan membereantas mereka. Tapi rakyat tak banyak yang tahu bagaimana dan apa yang musti dilakukan. Sebab para koruptor bekerja di dalam dimensi yang berbeda yang mana rakyat seringkali tak mampu menjangkaunya.

Ahok dan Risma boleh kita angkat sebagai icon pejabat yang berani melawan korupsi, tak pernah takut kepada siapapun yang berniat mencederai kepentingan rakyat. Keduanya adalah prototype pejabat yang kita cari-cari selama ini. Merekalah sesungguhnya agen rakyat sejati, yang langsung berada didalam lingkaran kekuasaan pemerintahan daerah dan sekaligus sebagai penjaga amanah yang dititipkan dipundak mereka dalam membangun daerah masing-masing.

Ahok dan Risma, tak bisa tinggal diam dan bereaksi sangat keras meski baru melihat atau menemukan gejala adanya kemunafikan dan kecurangan yang dilakukan oleh para pejabat lainnya. Mereka alergi terhadap perilaku korupsi, dan menganggap bahwa mencuri uang rakyat adalah satu-satunya hal yang mereka benci. Tak heran bila meraka secara spontan memaki para oknum pejabat yang hendak melakukan korupsi dengan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan. Sebab ini hanyalah semata-mata ekspresi kekesalan dan kebencian mereka terhadap para koruptor.

Apa yang dilakukan Ahok dengan mengumpat dan memaki dengan kata kotor kepada para pejabat yang diduga telah melakukan korupsi tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan. Sebab justru dengan demikian Ahok telah menunjukkan bahwa dirinya punya keberanian luar biasa dari dalam hatinya dan diwujudkan dengan bicaranya yang tegas dan tak takut kepada siapapun juga.

Demikian juga dengan apa yang dilakukan Risma tatkala terjadi peristiwa rusaknya Taman bungkul pasca insiden Wall’s beberapa waktu lalu di Surabaya. Risma secara spontan meluapkan seluruh kemarahannya dengan mengumpat dan mengutuk panitia penyelenggara yang dianggap bertanggung jawab atas rusaknya salah satu aset kebanggaan masyarakat Surabaya itu.

Memang perilaku tersebut oleh sebagian orang dianggap melanggar etika dan sopan santun, namun bia konteksnya untuk menunjukkan semangat berjuang untuk melawan korupsi dan membela kepentingan masyarakat, tentulah masih dapat dimaklumi.

Pendapat bahwa Ahok salah asuhan adalah keliru

Terkait perilakunya yang suka memaki dengan kata-kata kotor kepada oknum pejabat yang melakukan korupsi, banyak menuai kecaman dari berbagai pihak. Bahkan menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Susana Yembise, perkataan yang tidak baik dari seorang pejabat merupakan cerminan dari didikan keluarganya. Sehubungan dengan pernyataan ini, saya berani mengatakan bahwa apa yang dinilai oleh Menteri Yuhana adalah keliru.

Mengapa saya berpendapat demikian? Sebab apa yang dilakukan oleh Ahok bukanlah perilaku yang salah akibat tidak adanya pembinaan perilaku oleh keluarganya. Mengumpat para koruptor yang dilakukan Ahok semata-mata adalah cermin kekesalan dan rasa benci.

Jangankan Ahok, Alm. Gus Dur pun sebagai kiai besar pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang dan sekaligus mantan Presiden RI, sedari kecil berada di dalam lingkungan keluarga santri yang sangat menujunjung tinggi tata-krama dan sopan santun juga pernah mengumpat dengan kata ‘BAJINGAN’

Apakah dengan demikian Gus Dur dengan serta merta dianggap sebagai orang yang tidak memperoleh ajaran yang benar dari keluarganya dalam menjaga sopan santun? Sama sekali tidak.
Justru dalam hal ini menunjukkan bahwa Gus Dur adalah seorang pemberani membela yang benar dan tak pernah takut kepada siapapun juga. Yang benar harus dibela, dan yang salah harus di perbaiki.

Namun demikian terlepas dari semua yang saya sampaikan diatas, perilaku yang santun dalam berbicara adalah hal yang musti selalu dijaga, apalagi bila dia adalah seorang pejabat atau public figure. Namun demikian, bila memang hal ini terjadi seperti yang dilakukan oleh Gur Dur, Ahok dan Risma yaitu mengumpat dengan kata yang tidak sepantasnya diucapkan, tentu perlu dikaitkan dengan konteks permasalahan yang sedang terjadi dan tidak serta merta dianggap sebagai perilaku yang tidak terpuji.

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 101 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Ahok Bukan Milik Warga Jakarta Saja

Sepanjang perjalanan saya wara-wiri dari akun ke akun dan dari group ke group di media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.