Home / Figur / Biografi Bisri Mustofa

Biografi Bisri Mustofa

bisri mustofaKH. Bisri Musthofa merupakan satu diantara sedikit ulama Indonesia yang memiliki karya besar. Beliaulah pengarang kitab tafsir al Ibriz li Marifah Tafsir Al Quran al Aziz. Kitab tafsir bimakna pesantren ini selesai beliau tulis pada tahun 1960. Karya-karya beliau tak sebatas pada bidang tafsir, di bidang lain pun seperti tauhid, fiqh, tasawuf, hadist, tata bahasa Arab, sastra tak kalah banyaknya.

Selain itu, KH. Bisri Mustofa juga dikenal sebagai orator atau ahli pidato. Beliau, menurut KH. Saifuddin Zuhri, mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit sehingga menjadi begitu gambling, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasikkan, sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting, berbagai kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancer dan menyegarkan, serta pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan secara sopan dan menyenangkan (KH. Saifuddin Zuhri : 1983, 27)

Masa Kecil

KH. Bisri Musthofa dilahirkan di desa Pesawahan, Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan haji di kota suci Makkah. Beliau adalah putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan isteri keduanya bernama Hj. Khatijah.

Di usinya yang kedua puluh, KH. Bisri Musthofa dinikahkan oleh gurunya yakni Kiai Cholil dari Kasingan (tetangga Pesawahan) dengan seorang gadis bernama Marufah yang tidak lain adalah putri Kiai Cholil sendiri.

Dari pernikahannya ini, KH. Bisri Musthofa dikaruniai delapan orang anak, yakni Cholil, Musthofa, Adieb, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah dan Atikah. Dua orang putra yakni Cholil (KH. Cholil Bisri) dan Musthofa (KH. Musthofa Bisri) mungkin yang paling familiar dikenal masyarakat sebagai penerus kepemimpinan Pondok Pesantren.

KH. Bisri Musthofa wafat pada tanggal 16 Februari 1977.

Pendidikan

KH. Bisri Musthofa lahir dalam lingkungan pesantren, karena memang ayahnya seorang Kiai. Sejak umur tujuh tahun, beliau belajar di sekolah Angka Loro di Rembang. Di sekolah ini, beliau hanya bertahan satu tahun, karena ketika hampir naik kelas dua beliau diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Rupanya, ditempat inilah Allah memberikan cobaannya, dalam perjalanan pulan di pelabuhan Jedah, ayahnya yang tercinta wafat setealah sebelumnya menderita sakit di sepanjang pelaksanaan haji ( KH.Saifuddin Zuhir : 1983, 24)

Sepulang dari Makkah, KH. Bisri Musthofa sekolah di Hollan Indische School (HIS) di Rembang. Tak lama kemudian, ia dipaksa keluar oleh Kiai Cholil dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda. Akhirnya, Ia kembali ke sekolah Angka Loronya yang dulu. Ia belajar di Angka Loro hingga mendapatkan sertifikat dengan masa pendidikan empat tahun.

Pada usia 10 tahun, KH. Bisri Musthofa melanjtukan pendidikannya ke pesantren Kajen, Rembang. Selanjutnya pada 1930, belajar di Pesantren Kasingan pimpinan Kiai Cholil.

Setahun setelah dinikahkan oleh Kiai Cholil dengan putrinya yang bernama Marfuah, KH. Bisri Musthofa berangkat lagi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan beberapa anggota keluarga dari Rembang. Namun seusai haji, KH. Bisri Musthofa tidak pulang ke tanah air, melainkan memilih bermukim di Mekah dengan tujuan menunutut ilmu di sana.

Di Mekah, beliau belajar dari satu ke guru lain secara langsung dan privat. Tercatat beliau pernah belajar kepada Syeikh Baqil, asal Yogyakarta, Syeikh Umar Hamdan Al Maghriby, Syeikh Ali Malik, Sayid Amid, Syeikh Hasan Massath, Sayid Alwi dan KH. Abdullah Muhaimin. (KH. Bisri Musthofa: 1977, 18)

Dua tahun lebih KH. Bisri menuntut ilmu di Mekah. KH. Bisri Musthofa pulang ke Kasingan tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan mertuanya.

Setahun kemudian, mertunya yakni Kiai Cholil meninggal dunia. Sejak itulah KH. Bisri Musthofa menggantikan posisi guru dan mertunya itu sebagai pemimpin pesantren.

Disamping kegiatan mengajar di Pesantren, beliau juga aktif mengaisi ceramah-ceramah (pengajian) keagamaan. Penampilannya diatas mimbar amat mempesona para hadirin yang hadir, sehingga beliau sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan diluar daerah Rembang, seperti Kudus, demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah lain di Jawa Tengah.

Karya-karya

Jumlah tulisan-tulisan beliau yang ditinggalkan mencapai lebih kurang 54 buah judul, meliputi: tafsir, hadits, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu, sharf, kisah-kisah, syiiran, doa, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah, dan lain-lain. Karya-karya tersebut dicetak oleh beberapa perusahaan percetakan yang biasa mencetak buku-buku pelajaran santri atau kitab kuning, di antaranya percetakan Salim Nabhan Surabaya, Progressif Surabaya, Toha Putera Semarang, Raja Murah Pekalongan, Al-Maarif Bandung dan yang terbanyak dicetak oleh Percetakan Menara Kudus. Karyanya yang paling monumental adalah Tafsir al-Ibriz (3 jilid), di samping kitab Sulamul Afham (4 jilid).

Karya-karya KH. Bisri Musthofa jika diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan adalah sebagai berikut:

A. Bidang Tafsir
Selain tafsir al-Ibriz, KH. Bisri Musthofa juga menyusun kitab Tafisr Surat Yasin. Tafsir ini bersifat sangat singkat dapat digunakan para santri serta para daI di pedasaan. Termasuk karya beliau dalam bidang tafsir ini adalah kitab al-Iksier yang berarti Pengantar Ilmu Tafsir ditulis sengaja untuk para santri yang sedang mempelajari ilmu tafsir.

B. Hadits
1. Sulamul Afham, terdiri atas 4 jidil, berupa terjamah dan penjelasan. Di dalamnya memuat hadits-hadits hukum syara secara lengkap dengan keterangan yang sederhana.
2. al-Azwad al-Musthofawiyah, berisi tafsiran Hadits Arbain an-Nawaiy untuk para santri pada tingkatan Tsanawiyah.
3. al-Mandhomatul Baiquny, berisi ilmu Musthalah al-Hadits yang berbentuk nadham yang diberi nama.

C. Aqidah
1. Rawihatul Aqwam
2. Durarul Bayan
Keduanya merupakan karya terjemahan kitab tauhid/aqidah yang dipelajari oleh para santri pada tingkat pemula (dasar) dan berisi aliran Ahlussunnah wal Jamaah. Karyanya di bidang aqidah ini terutama ditujukan untuk pendidikan tauhid bagi orang yang sedang belajar pad atingkat pemula.

D. Syariah
1. Sullamul Afham li Marifati al-Adillatil Ahkam fi Bulughil Maram.
2. Qawaid Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji.
3. Islam dan Shalat.

E. Akhlak/Tasawuf
1. Washaya al-Abaa lil Abna
2. Syiir Ngudi Susilo
3. Mitra Sejati
4. Qashidah al-Taliqatul Mufidah (syarah dari Qashidah al-Munfarijah karya Syeikh Yusuf al-Tauziri dari Tunisia)

F. Ilmu Bahasa Arab
1. Jurumiyah
2. Nadham Imrithi
3. Alfiyah ibn Malik
4. Nadham al-Maqshud.
5. Syarah Jauhar Maknun
G. Ilmu Mantiq/Logika
Tarjamah Sullamul Munawwaraq, memuat dasar-dasar berpikir yang sekarang lebih dikenal dengan ilmu Mantiq atau logika. Isinya sangat sederhana tetapi sangat jelas dan praktis. Mudah dipahami, banyak contoh-contoh yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

H. Sejarah
1. An-Nibrasy
2. Tarikhul Anbiya
3. Tarikhul Awliya.

I. Bidang-bidang Lain
Buku tuntunan bagi para modin berjudul Imamuddien, bukunya Tiryaqul Aghyar merupakan terjemahan dari Qashidah Burdatul Mukhtar. Kitab kumpulan doa yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari berjudul al-Haqibah (dua jilid). Buku kumpulan khutbah al-Idhamatul Jumuiyyah (enam jilid), Islam dan Keluarga Berencana, buku cerita humor Kasykul (tiga jilid), Syiir-syiir, Naskah Sandiwara, Metode Berpidato, dan lain-lain.

Pemikiran

Tidak dapat dipungkiri, di dalam lingkungan kaum muslimin ada dua kecenderungan, yaitu kelompok tekstual-skripturalistik dan kelompok rasional. Kelompok tekstualis selalu menjadikan ayat al-Quran dan Hadits apa adanya sebagai dasar argumen, berpikir, dan bersikap. Sementara kelompok rasionalis selalu memberikan interpretasi rasional terhadap teks-teks keagamaan berdasarkan kemampuan akalnya.

KH. Bisri Musthofa tidak termasuk di antara kedua kelompok di atas. KH. Bisri Musthofa lebih cenderung berada di tengah-tengah antara tekstual-skripturalis dan rasionalis. Sebagaimana terlihat jelas dalam kitab tafsirnya, al-Ibriz, KH. Bisri Musthofa selalu memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat dengan mengambil beberapa pendapat para mufassir disertai dengan argumen-argumen yang beliau berikan sendiri. Dalam kitab tafsirnya itu tidak sedikit ditemukan uraian-uraian yang menyangkut ilmu sosial, logika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.

Di bidang akhlak, KH. Bisri Musthofa termasuk orang yang sangat memprihatinkan kondisi kemorosotan moral generasi muda. Lewat karya-karyanya di bidang akhlak itulah KH. Bisri Musthofa menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada generasi muda. Dalam kitab berbahasa Jawa Washoya Abaa li al-Abna, misalnya, beliau memberikan tuntunan-tuntunan seperti sikap taat dan patuh kepada orangtua, kerapihan, kebersihan, kesehatan, hidup hemat, larangan menyiksa binatang, bercita-cita luhur dan nasihat-nasihat baik lainnya. Sementara dalam karya yang berbentuk syair Jawa, yaitu kitab Ngudi Susila dan Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa menekankan sikap humanisme, kemandirian, rajin menuntut ilmu dan lain-lain.

Sedangkan pemikiran KH. Bisri Musthofa dalam bidang fiqh terlihat dalam pemikirannya mengenai Keluarga Berencana (KB). Menurutnya, manusia dalam berkeluarga diperbolehkan berikhtiar merencanakan masa depan keluarganya sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Dalam pandangan KH. Bisri Musthofa, Keluarga Berencana diperbolehkan bila disertai dengan alasan yang pokok, yaitu untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, dan meningkatkan pendidikan sang anak.

Karir Politik dan Perjuangan

KH. Bisri Musthofa hidup dalam tiga zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman pemerintahan Soekarno, dan masa Orde Baru. Pada zaman penjajahan, ia duduk sebagai ketua Nahdlatul Ulama dan ketua Hizbullah Cabang Rembang. Kemudian, setelah Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) dibubarkan Jepang, ia diangkat menjadi ketua Masyumi Cabang Rembang ketua Masyumi pusat waktu itu adalah KH. Hasyim Asyari dan wakilnya Ki Bagus Hadikusumo (Saifullah Mashum : 1994, 332). Masa-masa menjelang kemerdekaan, KH. Bisri Musthofa mendapat tugas dari PETA (Pembela Tanah Air). Beliau juga pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama dan ketua Pengadilan Agama Rembang. Menjelang kampanye Pemilu 1955, jabatan tersebut ditinggalkan, dan mulai aktif di partai NU. Dalam hal ini beliau menyatakan : tenaga saya hanya untuk partai NU dan di samping itu menulis buku.

Pada zaman pemerintahan Soekarno, KH. Bisri Musthofa duduk sebagai anggota konstituane, anggota MPRS dan Pembantu Menteri Penghubung Ulama. Sebagai anggota MPRS, ia ikut terlibat dalam pengangkatan Letjen Soeharto sebagai Presiden, menggantikan Soekarno dan memimpin doa waktu pelantikan (Saifullah Mashum : 1994, 332).

Pada masa Orde Baru, KH. Bisri Musthofa pernah menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah hasil Pemilu 1971 dari Fraksi NU dan anggota MPR dari Utusan Daerah Golongan Ulama. Pada tahun 1977, ketika partai Islam berfusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), beliau menjadi anggota Majelis Syura PPP Pusat. Secara bersamaan, beliau juga duduk sebagai Syuriyah NU wilayah Jawa Tengah (Saifullah Mashum : 1994, 333).

Menjelang Pemilu 1977, KH. Bisri Musthofa terdaftar sebagai calon nomor satu anggota DPR Pusat dari PPP untuk daerah pemilihan Jawa Tengah. Namun sayang sekali, Pemilu 1977 berlangsung tanpa kehadiran KH. Bisri Musthofa. Beliau meninggal dunia seminggu sebelum masa kampanye 24 Februari 1977. Duduknya KH. Bisri Musthofa sebagai calon utama anggota DPR tersebut memang memberikan bobot tersendiri bagi perolehan suara PPP. Itulah sebabnya, wafatnya beliau dirasakan sebagai suatu musibah yang berat bagi warga PPP.

KH. Bisri Musthofa banyak menulis buku (kitab). Hal ini, barangkali, dilatarbelakangi salah satunya oleh makin besarnya jumlah santri disisi lain, sementara saat itu sulit sekali ditemukan kitab-kitab atau buku-buku pelajaran untuk para santri. Berkat kemampuan, inisiatif dan kreatifitas yang dimilikinya, KH. Bisri Musthofa berhasil menyusun dan mengarang banyak buku. Tetapi, selain karya-karya KH. Bisri Musthofa yang ditujukan untuk kalangan santri sebagai bahan pelajaran di pesantren yang dipimpinnya, karya-karya beliau juga ditujukan untuk kalangan luas di pedesaan yang aktif mengaji di surau-surau atau di masjid-masjid di mana beliau sering memberikan ceramah. Karena itu bahasa yang digunakan KH. Bisri dalam karya-karyanya tersebut disesuaikan dengan bahasa yang digunakan para santri dan masyarakat pedesaan, yakni menggunakan bahasa daerah (jawa), dengan tulisan huruf arab pegon, disamping juga ada karya-karya menggunaakan bahasa Indonesia.

Jumlah karya tulis kurang lebih mencapi 54 buah judul, meliputi, tafsir, hadist, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu, sharaf, kisah-kisah, syiiran, doa, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah, dan lain-lain. Karya-karya tersebut dicetak oleh beberapa perusahaan percetakan diantaranya percetakan Salim Nabhan Surabaya, Progressif Surabaya, Toha Putera Semarang, Raja Murah Pekalongan, Al Maarif Bandung dan yang terbanyak dicetak oleh percetakan Menara Kudus. Karya Beliau yang paling monumental adalah Tafsir Al Ibriz (3 Jilid), disamping kitab Sulamul Afham (4 Jilid).

Karya-karya KH. Bisri Musthofa jika diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan dibagai kedalam beberapa fan berikut.

Bidang Tafsir

Selain tafsir Al Ibriz, KH. Bisri Musthofa juga menyusun kitab Tafsir Surat Yasin. Tafsir ini bersifat sangat singkat dapat digunakan para santri serta dai di pedesaan. Termasuk arya beliau dalam bidang tafsir ini adalah al-iksier yang berarti Pengantar Ilmu Tafsir ditulis sengaja untuk para santri yang sedang mempelajari ilmu tafsir.

Hadist

Beberapa kitab hadis yang beliau susun diantaranya :

  • Sullamul Afham, terdiri dari 4 jilid, berupa terjemah dan penjelasan. Didalamnya memuat hadist-hadist hukum syara secara lengkap dengan keterangan yang sederhana
  • Al Azwad al Musthofawiyah, berisi tafsiran Hadist Arbain Nawawi untuk para santri pada tingkatan Tsanawiyah
  • Al Mandhomatul Baiquny, berisi ilmu Musthalah al Hadist yang berbentuk nadham yang diberi nama

Aqidah

  • Rawihatul Aqwam
  • Durarul Bayan

Syariah

  • Sullamul Afham li Marifati Al Adillatil Ahkam fi Bulughil Maram
  • Qawaid Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji
  • Islam dan Shalat

Ahlak / Tasawuf

  • Washaya al-Abaa lil Abna
  • Syiir Ngudi Susilo
  • Mitra Sejati
  • Qashidah al-Taliqatul Mufidah (Syarah Qashidah al Munfarijah karya Syeikh Yusuf al Tauziri dari Tunisia)

– Ilmu Bahasa Arab

  • Jurumiyah
  • Nadham Imrithi
  • Alfiah Ibn Malik
  • Nadham al Maqhsud
  • Syarah Jauhad Maknun

Ilmu Mantiq / Logika

  • Tarjamah Sullamul Munawarraq, memuat dasar-dasar berpikir yang sekarang dikenal dengan ilmu Mantiq dan logika.

Sejarah

  • An-Nibrasy
  • Tarikhul Anbiya
  • Tarikhul Awliya

Bidang lain, diantaranya

  • Buku tuntunan para modin berjudul Imamuddin
  • Tiryaqul Aghyar terjemah Qashidah Burdaul Mukhtar
  • Kitab kumpulan doa berjudul Al Haqibah

Karya-karya KH. Bisri Musthofa awalnya dipakai di Pesantren Kasingan Rembang untuk kalangan Pesantren sendiri. Tetapi, dalam perkembangann berikutnya , karya-karya KH. Bisri tersebut juga digunakan di berbagai pesantren di Jawa Tengah, seperti Pesantren Lasem, Rembang, Kudus, Demak, Semarang dan pesantren di wilayah Jawa Tengah, bahkan sampai ke beberapa kota di Jawa Timur.

Sumber : Intelektualisme Pesantren Juz 3

Penerbit : Diva Pustaka Jakarta (Baca Bukunya di Perpustakaan Al Hikmah 2)

-----------------------------------------

Karomah KH. Bisri Musthofa
KH Bisri Musthofa ayah Gus Mus dan KH Ali Ma’sum krapyak adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidup Gus Mus, Kedua kiyai tersebut memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kiai pengarang yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa, di antaranya (yang cukup terkenal) adalah Tafsir al-Ibriz. Selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.
Suatu hari K.H. Musthofa Bisri (Gus Mus) putra KH Bisri Musthofa, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin LetehRembang, Jawa Tengah, kedatangan seorang tamu dari Cirebon, Jawa Barat.
Assalamu alaikum. Anda Gus Mus? tanya si tamu yang namanya tidak tercatat dalam ingatan beliau.
Ya, benar, saya Musthofa, jawab Gus Mus.
Saya dari Cirebon, (kata si tamu). Saya ingin menyampaikan pesan Kiai Bisri. Beliau berpesan kepada saya agar menemui Anda, dan meminta agar Anda mengoreksi cetakan Al-Quran Menara Kudus. Karena pada cetakan itu, dalam surah Al-Fath, di situ ada sedikit kesalahan kecil dalam penulisan.
Tentu saja beliau (Gus Mus) kaget. Namun untuk tidak mengecewakan tamunya,beliau menahan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Kapan Anda ketemu beliau? tanya Gus Mus.
Kemarin di Cirebon, jawab si tamu datar.
Gus Mus kemudian tidak terlalu memikirkan hal ihwal tamunya. Pesannya itulah yang lebih istimewa. Kepada tamunya itu; Gus Mus mengungkapkan bahwa Kiai Bisri adalah ayahnya, tapi telah meninggal empat puluh hari sebelumnya.
Tentu saja si tamu keheranan, namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang kedatangannya hanya untuk menyampaikan pesan singkat itu.
Gus Mus kemudian segera menemui K.H. Abu Amar dan K.H. Arwani di Kudus, keesokan harinya.
Kedua kiai tersebut adalah penghafal Al-Quran yang dipercaya penerbit Menara Kudus untuk menerbitkan kitab Tafsir Al-lbriz, sebagai tashhih atau korektor. beliau ingin meyakinkan diri beliau tentang pesan orang dari Cirebon itu kepada K.H. Abu Amar dan K.H. Arwani.
Setelah berdiskusi mendalam, ternyata informasi tersebut benar. Kesalahan itu terdapat dalam ayat ke-18 surah Al-Fath. Ayat tersebut mestinya tertulis :
(لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ)
laqad radhiyallahu anil muminina, bukan laqad radhiyallahu ‘ala mu’minin.
Pengalaman yang sama juga dialami lagi oleh Gus Mus. Dalam kesempatan yang lain ia mendapat tamu, juga dari Cirebon.
Anda diminta Kiai Bisri agar melanjutkan karya beliau yang belum selesai, kata tamu itu.
Kapan Anda ketemu beliau? tanya Gus Mus.
Kemarin di Cirebon, jawab si tamu, juga dengan nada ringan dan datar.
Setelah mengucapkan terima kasih, kepada tamunya kali itu Gus Mus menjelaskan bahwa Kiai Bisri telah wafat beberapa waktu sebelumnya.
Reaksi si tamu pun sama, karena tujuannya ke Rembang tak lain hanyalah untuk menyampaikan pesan Kiai Bisri. Mushofa.
Pengalaman Gus Mus itu mempertegas kebenaran firman Allah dalam surah Al-Hijr ayat 9,
(إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ),
Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Al-Quran dan kami benar-benar memeliharanya.
Dan dalam surah Ali Imran ayat 169,
(وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ )
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
Oleh karena itu, sering kali kita mendengar para kiai yang telah mencapai maqam tertentu ketika meninggal dunia masih dapat menemui seseorang, bukan sekadar dalam mimpi, namun seperti di alam nyata. Hal ini juga terjadi pada KH. Muntaha al-Hafizh Wonosobo dan beberapa kiai lainnya. Ya, itu memang karomah dari sang kiai.
Mengenai KH Bisri Musthofa, beliau wafat pada hari Rabu 16 Februari 1977 pada usia 64 tahun, tepat seminggu menjelang pemilihan umum tahun tersebut. Sedangkan KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah putra keduanya yang kini meneruskan memimpin Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Leteh Rembang, peninggalan Beliau KH Bisri Musthofa.
أفاض الله لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 545 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Kenapa Saya Memilih Ahok?

Ada banyak orang pandai di negeri ini. Tak sedikit yang telah berpengalaman menjadi pejabat bahkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.