Home / Figur / Benarkah Gubernur Anies Punya Watak Feodal?

Benarkah Gubernur Anies Punya Watak Feodal?

Tanpa disengaja, saya menemukan sebuah video yang cukup menarik perhatian saya. Video ini diambil ketika Gubernur Anies berada pada sesi pemotretan di lokasi pembuangan sampah di daerah Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat, 13 Oktober 2017.

Terlepas dari apapun tujuan dari acara pemotretan tersebut, yang membuat saya tertarik hingga menurunkan tulisan ini adalah sikap dan gerakan tubuh Anies yang menurut saya agak aneh saja jika itu dilakukan oleh seorang pejabat Gubernur DKI Jakarta yaitu :

1. Berdiri dengan bersilang kaki

gubernur anies

Menurut saya, cara berdiri Gubernur Anies dengan posisi salah satu kaki disilangkan, sementara lengan kirinya bersandar pada pegangan bak sampah, seakan memberi kesan orang yang sedang bersantai, rileks dan seperti tak punya beban atau tanggungjawab. Sedangkan Anies adalah seorang Gubernur yang tentu sedang mengemban amanah dari warganya dan dipercaya dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada di DKI.

Orang yang sedang berdiri dengan bersilang kaki seperti itu, juga memberi kesan bahwa dia telah selesai beraktifitas atau sedang beristirahat dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan tak mau diganggu orang lain. Pada kenyataannya, Anies pun sama sekali belum bekerja secara efektip sebagai Gubernur, bahkan saat itu dia dilantik saja belum, tapi apa yang dilakukanya itu justru tepat di depan warga yang menyaksikannya. Rasanya tak pantas perilaku demikian ini dilakukan oleh pejabat Gubernur terpilih.

2. Dilayani bagai Sang Raja

Sesaat kemudian, Gubernur Anies tampak ingin menyeka keringat di bagian wajah seraya mengggerakkan jemarinya sebagai tanda memanggil asisten. Masih dengan posisi kaki bersilang sambil memanggil asistennya, perilaku seperti ini mencerminkan bahwa Anies punya karakter ‘bossy‘ atau ‘nge-Boss’, atau yang populer dengan istilah perilaku feodal.  Dia menganggap dirinya punya derajat lebih tinggi, dan harus dilayani sebagaimana tuan Paduka Raja yang dilayani oleh para dayang istana.

Kode panggilan dengan gerakan jemari tangan seperti tukang parkir memberi aba-aba, menurut saya sangat tidak etis dilakukan, meskipun itu sekadar memanggil anak buahnua sendiri. Dia mungkin lupa bahwa dirinya berada di ruang publik yang mana setiap orang bisa dengan mudah melihat perilakunya itu.

Menyadari bahwa dirinya sedang dipanggil, si asistennya itu dengan sigap berlari-lari kecil menghampiri ‘boss’nya, untuk menyerahkan apa yang diinginkan yaitu selembar saputangan atau kain lap untuk menyeka keringat sang Boss. Si Asisten ini juga terkesan sangat patuh dan tunduk atas apapun perintah, seperti pembantu yang setia kepada majikannya. Sedemikian feodalkah watak Gubernur Anies hingga selembar saputangan juga dipersiapkan dan dibawa oleh asistennya kemanapun dia pergi dan harus siap setiap saat jika ingin dipakainya?

Saat menyeka keringat dengan kain lap itu, Gubernur Anies pun juga  tetap saja tak bergeming dari posisi kaki bersilang. Sama sekali tak peduli dengan keadaan di sekeliling dan mungkin saja diapun merasa bahwa dunia ini adalah miliknya.

Hingga selesai menyeka keringat yang menempel di wajah, telinga dan sebagian lehernya, posisi kaki Anies tetap saja tak berubah. Kain lap yang sudah penuh berisi keringat bercampur daki itu bukannya dia masukkan kedalam saku celananya, tapi malah di lemparkannya ke badan si asisten. Bukankah itu adalah perilaku yang sangat-sangat menjijikkan jika dilakukan oleh seorang pejabat publik, apalagi ditonton langsung oleh warganya?

Sesungguhnya apa yang terjadi  pada diri Anies ini? Benarkah dia memiliki watak feodal yang kuat? Disamping itu, dari adegan pada video tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa Anies memiliki sikap yang angkuh dan sombong.

Beginikah sifat pejabat Gubernur yang dipercaya untuk memimpin ibukota? Mau jadi apa nanti Jakarta, jika Gubernurnya punya watak feodal seperti ini?

Terserah bagaimana anda menilai dan menanggapinya..

#donibastian

 

Facebook Comment..
Views 508 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Saya Kecewa dengan Ahmad Dhani

Saya pertama kali mendengar nama Ahmad Dhani (AD) sekitar tahun 87-88. Kala itu saya mendengarkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *