Home / Hidup dan Kehidupan / Nasib PSK Eks Gang Dolly, Siapa yang Peduli ?

Nasib PSK Eks Gang Dolly, Siapa yang Peduli ?

dolly

Tempat prostitusi gang Dolly dan Jarak telah resmi ditutup oleh pemerintah kota Surabaya. Penutupan lokalisasi yang konon kabarnya sempat menjadi yang terbesar se Asia Tenggara (saya malu menulis ini), sesuai dengan yang telah dideklarasikan di Gedung Islamic Center Surabaya tadi malam. Acara itu selain dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah juga MenSosSalim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim, Pak De Karwo dan tentu yang empunya kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Informasi perihal ditutupnya lokasisasi gang Dolly dan Jarak telah menyita perhatian banyak pihak, yang sebelumnya juga sempat menjadi polemik dan menuai pendapat beragam dari masyarakat. Keberhasilan Walikota Surabaya Tri Rismaharini menutup lokaliasi ini disatu sisi patut diberikan apresiasi yang setinggi-tingginya, sebab keberadaannya yang sudah puluhan tahun itu memang lebih banyak menimbulkan dampak negatip dan berbagai permasalahan sosial yang merugikan masyarakat Surabaya sendiri.

Namun demikian dibalik itu semua, saya melihat masih tertinggal permasalahan lain sebagai konsekuensi dari keputusan Walikota Surabaya menutup lokalisasi Dolly tersebut. Yaitu sebagian masyarakat yang kehidupannya terlanjur terjebak didalam lingkaran bisnis asusila didaerah tersebut. Mereka itu adalah terutama para PSK yang sudah menggantungkan hidupnya bahkan telah beranak pinak di lokalisasi gang Dolly. Bagaimana nasib mereka pasca penutupan gang Dolly ?

Memang, bila kita memandang dengan sebelah mata, maka tak ada satupun alasan untuk memikirkan nasib mereka, bukankah itu kesalahan yang mereka perbuat sendiri ?. Untuk apa membela orang orang yang nyata nyata telah berbuat maksiat, merusak moral, melanggar aturan negara, norma susila dan agama ?

Namun demikian bila kita mau berpikir jernih secara obyektip dan komprehensip untuk menelaah segala aspek yang terkait dengan permasalahan yang terjadi, maka tentu kita akan punya cara pandang yang berbeda.

Perempuan mana yang mau jadi PSK ?

Pertanyaan diatas adalah sebagai kunci untuk membuka persepsi yang selama ini berkembang luas di benak masyarakat. Banyak orang dengan serta merta mengatakan jijik terhadap keberadaan kaum PSK. PSK dianggap sebagai penyakit masyarakat yang memiliki perilaku yang tidak terpuji  dan pantas dijauhi. Mereka dituding sebagai pemicu terjadinya kegiatan maksiat yang dilakukan para hidung belang.

Namun sesungguhnya mereka hanyalah korban. Yaitu korban dari peristiwa pedih di masa lalu atau terjerat oleh permasalahan ekonomi. Bila ada pilihan lain yang lebih baik tentulah mereka tak akan jadi PSK. Mereka salah dalam mengambil sikap dan mencari jalan pintas sebagai solusi. Adapula yang awalnya hanya iseng, diajak teman  atau sekedar  melampiaskan emosi karena kecewa dengan kekasihnya. Merekapun  kemudian terjebak juga karena telah terbiasa memperoleh uang dengan cara yang gampang  dan menyerah pada kenyataan sulitnya mencari pekerjaan yang lebih bermartabat. Bahkan konon ceritanya pada sekitar tahun 60an, lokalisasi ini awalnya didirikan oleh seorang perempuan yang bernama Dolly Khavit yang merasa sakit hati ditinggalkan mantan suaminya yang jadi pelaut.

Mengapa sudah sekian lama dibiarkan saja beroperasi oleh pemerintah ?

Pemerintahan kota Surabaya sejak dipimpin oleh walikota R.Soekotjo, hinga saat ini sudah berganti 5 Pejabat walikota, namun tak pernah ada upaya serius untuk menutup keberadaan lokalisasi gang Dolly, dan terkesan malah dibiarkan saja. Apakah karena mereka semuanya adalah laki-laki ? Kemudian barulah ketika terpilih sebagai walikota wanita pertama di Surabaya Tri Rismaharini, justru yang berani mengambil langkah tegas dengan menutup gang Dolly. Pemerintahan Kota Surabaya periode sebelumnya juga harus bertanggung jawab dengan keberadaan Gang Dolly, sebab dengan adanya pembiaran yang sudah sekian lama membuat kegiatan asusila ini menjadi hal yang biasa, bahkan membudaya khususnya dilingkungan sekitar dan menjadi icon bagi para lelaki hidung belang.

Memang tak dapat dipungkiri, dimasa kejayaan Gang Dolly ini pernah menjadi primadona se Asia Tenggara, mengalahkan distrik lampu merah Phat Pong di Bangkok, Thailand, ataupun kawasan Geylang di Singapura. Diarea ini dulu pada sekitar tahun 1990, terdapat 9000 PSK yang bekerja melayani tamu lelaki hidung belang dan jumlah pengunjung Dolly kala itu bisa mencapai  100.000 orang per hari !

Sesuai liputan Investigatif Jawa Pos pada akhir tahun 2004, perputaran uang dalam transaksi asusila di Gang Dolly sampai Rp. 5 Miliar per hari, dan ada sekitar 15.000 orang yang ikut andil dan menggantungkan hidupnya disana. Bahkan, sebagian aliran uang panas tersebut jatuh ke aparat. Mulai RT, RW, satpol PP, polisi, hingga tentara, dan secara tidak langsung juga ikut mengisi kas daerah.

Penelusuran Jawa Pos sepuluh tahun lalu juga mengungkapkan bahwa dari 56 wisma besar di Dolly saja, terkumpul uang kontrol Rp 7,5 juta per hari. Per bulan mencapai Rp 420 juta. Itu dengan asumsi tamu yang datang setiap hari sekitar 1.500 orang. Bisa dibayangkan betapa luar biasa daya tarik Gang Dolly ini di masa lalu.

Sekarang, masih ada masalah yang tersisa pasca ditutupnya Gang Dolly, yaitu bagaimana nasib para PSK disana ? Kabarnya pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan anggaran sebagai santunan berupa uang tunai sejumlah Rp. 5 Juta rupiah per PSK. Namun sesungguhnya bukan sekedar santunan yang mereka inginkan, namun lebih jauh mereka butuh pengarahan dan pembinaan dari pemerintah kota, dalam mencari nafkah untuk membiayai kehidupan sehari hari. Uang santunan sebesar Rp. 5 Juta juga tak akan banyak membantu mereka dalam memperbaiki nasib.

Walikota Tri Rismaharini dalam hal ini harus bertanggungjawab penuh dan mencarikan solusi yang terbaik, yaitu dengan membuka lapangan kerja secepat-cepatnya untuk menampung para PSK. Sebab setiap warga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan sebagai konsekuensinya, pemerintah kota secara konsisten menyelesaikan semua permasalahan yang tersisa, terutama mengangkat harkat dan martabat PSK eks Gang Dolly.

Semoga Walikota Surabaya Tri Rismaharni diberi kemudahan dalam menyelesaikannya

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 97 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Mengapa Harus Dikawini?

Bila anda tahu ada seorang janda dengan banyak anak, kedua orang tuanya sudah uzur dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.