Home / Hidup dan Kehidupan / Cinta Dalam Kehidupan Rumah Tangga

Cinta Dalam Kehidupan Rumah Tangga

cinta dalam rumah tangga

Bagi yang belum pernah menikah, mungkin belum bisa merasakannya. Tapi setidaknya tulisan saya ini bisa sedikit memberi gambaran tentang makna cinta di dalam kehidupan berumah tangga.

Cinta adalah sesuatu yang indah. Semua orang tentu setuju dengan pernyataaan ini. Tetapi keindahan cinta ternyata tidak bisa dinikmati setiap saat dan setiap waktu bahkan terkadang tidak bisa dimiliki selamanya.

Banyak cinta yang berakhir dengan airmata dan luka atau malah sebaliknya berakhir dengan saling benci. Begitulah cinta, sebab cinta hanyalah ekspresi perasaan manusia kepada lawan jenisnya. Namun ketika perasaan cinta di aktualisasikan dengan perbuatan, maka setiap pasangan yang saling jatuh cinta, tidak semuanya berhasil mengelolanya dengan baik.

Dalam hidup ini, kita tidak sendiri. Bahkan kita lahir dari pasangan ayah dan bunda, serta dibesarkan dilingkungan dalam sebuah keluarga. Oleh sebab itu, akibat dari semua yang kita lakukan tentu akan menjadi beban dan tanggung jawab orang tua dan seluruh keluarga besar kita. Terkait dengan cinta di kehidupan remaja atau Pra-nikah, perwujudan cinta sebagai simbol kasih sayang terkadang dilakukan hingga melampaui batas etika dan norma susila. Cinta yang sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang yang murni dan agung antara laki-laki dan perempuan. Cinta sesaat bisa saja berubah menjadi pelampiasan nafsu semata, bila tak ada pengendalian diantara keduanya.

Banyak yang belum memahami, bahwa hadirnya cinta bukanlah untuk sekadar menyalurkan hasrat dan birahi yang tak terkendali kepada pasangannya.Pembuktian cinta juga bukan harus berakhir di ranjang.

Cinta dimasa pranikah, sebatas menunjukkan perhatian dan keinginan untuk saling memiliki. Oleh sebab itu muncul dampak lain dari cinta yaitu perasaan rindu, sakit hati dan cemburu. Sangat berbeda ketika cinta sudah mulai memasuki masa pernikahan.

Jadi, jangan heran bila pada suatu saat, cinta akan berubah wujudnya menjadi sebuah tanggung jawab, yaitu ketika berada di dalam kehidupan berumah tangga. Apalagi bila sudah tercipta sebuah keluarga yang lengkap dengan beberapa anak-anaknya.

Mungkin apa yang dulu dirasakan sebagai cinta kepada pacar atau kekasih, tak kan ditemukan lagi ketika sudah berumah tangga. Dulu, bila lama tak bertemu pacar, maka di dalam hati selalu merindu. Tapi bagi pasangan yang sudah berumah tangga, rindu yang ada adalah lebih berat untuk anak-anak mereka, bukan kepada istrinya seperti dulu semasa berpacaran.

Bila tidak ada rindu, apakah tidak ada cinta?

Tidak juga. Cinta diantara suami – istri tetap ada dan selalu ada, hanya berubah wujudnya saja. Di dalam masa pernikahan, suami yang mencintai istrinya adalah suami yang bertanggung jawab secara lahir-batin kepada istri dan anak-anaknya, tidak sekadar bilang cinta.

Demikian juga dengan istri yang mencintai suaminya, adalah istri yang berbakti dan dengan setia menemani suaminya dikala susah maupun senang, dan merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Sangat berbeda dengan cinta diantara dua remaja yang sedang dilanda kasmaran. Cinta pada masa berpacaran adalah egoistis, maksudnya hanya berdasarkan pada perasaan diri sendiri untuk saling memiliki, sebab memang belum saatnya mereka punya tanggung-jawab lebih. Tetapi bukannya tidak ada tanggung-jawab, sebab masih ada tanggung-jawab yang harus diemban oleh pasangan remaja yang sedang jatuh cinta, yaitu tanggung jawab moral dan etika.

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 745 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Nasib PSK Eks Gang Dolly, Siapa yang Peduli ?

Tempat prostitusi gang Dolly dan Jarak telah resmi ditutup oleh pemerintah kota Surabaya. Penutupan lokalisasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.