Home / Hukum / Hakim Main = Main Hakim

Hakim Main = Main Hakim

Hakim Main = Main Hakim

OPINI | 03 December 2012 | 15:50 Dibaca: 120   Komentar: 0  

Persoalan pelanggaran kode etik profesi sebagai pejabat negara tak habis habisnya dibicarakan dinegeri ini. Kasus perkasus datang dan pergi silih berganti, sambung menyambung yang nampak tak berujung. Kini giliran lembaga hukum yang  paling elit dinegeri ini,  Mahkamah Agung malah ‘berkontribusi’ menambah panjangnya catatan jumlah hakim hakim ‘nakal’.Tersebutlah nama Ahmad Yamani , seorang  Hakim Agung yang lolos dari seleksi melalui Komisi Yudisial yang kala itu masih diketuai oleh Busyro Muqoddas, kini sedang menjadi buah mulut berbagai kalangan.

Banyak diberitakan dan diduga Hakim Yamani telah melakukan pelanggaran terhadap kode etik Hakim terkait dengan proses Peninjauan Kembali (PK) dalam kasus narkoba atas nama Hengky Gunawan si pemilik pabrik Ekstasi di Surabaya, yang mana dalam tingkat Kasasi, Hengky  telah divonis hukuman mati.

Ahmad Yamani ditengarai seringkali membuat keputusan kontoversial sejak tahun 2009 antara lain ketika  membatalkan hukuman mati terpidana Hillary K Chimezie karena memiliki 5,8 kilogram heroin dan mengganti dengan hukuman penjara selama 12 tahun. Kemudian  pada tahun 2010, Yamani juga  meringankan vonis terpidana gembong narkoba Naga Sariawan Cipto Rimba alias Liong-liong. Tak main-main, Yamani menganulir vonis 17 tahun penjara menjadi bebas, padahal terpidana masuk kategori gembong narkoba. Tidak hanya itu, Yamani juga memiliki ‘prestasi’ berupa penolakan kasasi yang diajukan oleh dua orang terdakwa kasus pembunuhan Sun An dan Ang Ho tahun ini. Dalam putusan Kasasi itu, Yamani menolak pembelaan para terdakwa yang menyatakan kasus pembunuhan terhadap pasangan Kho Wie To dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim merupakan rekayasa kepolisian.

Yang terakhir ketika Yamani sebagai ketua Majelis Hakim mengambil keputusan tingkat PK atas kasus Hengky Gunawan tersebut dengan membatalkan hukuman mati dan mengganti vonis menjadi penjara selama 15 tahun,  telah menuai protes dari semua kalangan. Yamani dianggap telah ‘menodai’ semangat para penegak hukum lainnya  untuk memberantas gembong Narkoba.

Namun itupun masih belum cukup. Yamani kemudian  membuat aksi yang lebih ‘gila’ lagi dan membuat semua tercengang dengan keberaniannya ‘menukangi’ vonis penjara 15 tahun, menjadi 12 tahun.

Bagaimana bisa seorang Hakim Agung senior yang sekarang sudah berumur 65 tahun, yang notabene seorang ahli hukum yang tentu punya pemikiran logis, bisa dengan sengaja mencoret dengan tulisan tangan hasil putusan Majelis Hakim ?

Pastilah ada faktor penyebab yang melatarbelakangi Yamani bisa bertindak ‘bodoh’ seperti itu. Yamani sudah pasti ‘bermain’ dengan pihak yang berperkara terutama kubu terdakwa. Yamani tentu telah diiming-imingi memperoleh kompensasi yang luar biasa menggiurkan, hingga berani mempertaruhkan jabatan, mengorbankan harga diri dan bahkan mengkhianati profesi dan institusi yang membesarkan namanya.

Saya rasa, moral para penegak hukum di Republik ini sudah sangatlah memprihatinkan.  Bahkan Hakim Agung sebagai benteng terakhir proses penegakan hukum di negeri inipun juga ikut ‘bermain’.

Bila hakim sudah ikut ‘bermain’ itu sama saja dengan main hakim sendiri.  Bila Hakim sudah main hakim sendiri, mengapa rakyat main hakim sendiri tidak diperbolehkan ?

Bila hal ini dibiarkan berlalu begitu saja, saya khawatir, pada gilirannya nanti para Hakim yang akan dihakimi oleh rakyat sendiri.

Mau jadi apa negeri kita ini ?

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 69 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.