Home / Kerja dan Karir / Bos Saya Akhirnya Masuk Penjara

Bos Saya Akhirnya Masuk Penjara

pegawai dipecatApakah anda seorang bos yang punya anak buah ?  Bila ya, maka anda tentu punya wewenang untuk mengambil keputusan, terkait dengan pelaksanaan pekerjaan apalagi bila ada masalah yang harus diselesaikan. Namun demikian, sebagai seorang pimpinan, baik itu di dalam unit kerja yang terkecil misalnya seksi atau sub seksi sampai dalam scope yang besar yaitu sebagai pimpinan perusahaan atau lembaga berskala besar hingga punya ribuan anak buah, satu hal saja yang tak boleh sekalipun anda lakukan, yaitu membuat kecewa atau menyakiti hati bawahan atau anak buah anda.

Mengapa demikian? Saya bahkan menemui kesulitan dalam memberi alasannya. Sebab ini berkaitan dengan hukum sebab dan akibat. Untuk menjelaskannya, saya hanya bisa berbagi cerita saja, dan anda sendiri yang bisa mengambil kesimpulannya.

Sebagai bos, satu hal saja yang tak boleh sekalipun anda lakukan, yaitu membuat kecewa atau menyakiti hati bawahan atau anak buah anda – Doni Bastian

Bos yang Sombong

Suatu ketika saya diajak bicara santai dengan bos saya setelah jam kerja. Mungkin karena untuk melepaskan beban yang menyesaki benaknya, maka dia bercerita polos apa adanya. Entah bagaimana awalnya, dia kemudian mengatakan bahwa  dia seringkali memecat anak buahnya yang dianggapnya terlalu sering berbuat kesalahan. Saya tahu, dia adalah seorang pemimpin yang idealis. Di mata dia, semua harus berjalan dengan baik dan semua target harus dapat tercapai dengan baik. Dia tak segan memarahi anak buahnya yang melakukan kesalahan atau indisipliner di depan karyawan yang lain. Bila sudah diperingatkan, masih saja bandel, maka tak lama setelah itu pasti karyawan tersebut segera dipecatnya.

Sepintas tak ada masalah, dan dia merasa benar karena dengan alasan demi kemajuan perusahaan. Karyawan yang seringkali melakukan kesalahan, dianggapnya sebagai penghambat dan mengganggu operasional perusahaannya. Maka dari itu, dia lebih suka mengambil jalan pintas dengan memecatnya.

Memang dia seorang bos, punya wewenang untuk memecat anak buahnya. Dia sama sekali tidak takut, sebab karena merasa benar. Baginya, lebih baik memecat karyawan yang tak bisa kerja, daripada nanti malah membuat kacau kinerja perusahaan, gara gara ada beberapa orang yang tidak bisa kerja.

Saat dia bercerita panjang lebar dan dengan bangganya bisa memecat orang, saya hanya bisa terdiam. Di dalam hati saya bertanya.”Bila ada seorang karyawan yang dipecat, terlepas dari kesalahan apapun yang pernah dilakukannya, yang terpikir dibenak saya adalah, bagaimana dengan istri dan anak-anaknya? Bukankah keryawan tersebut bekerja untuk menafkahi kehidupan anak dan istrinya? Bila dia telah dipecat, bagaimana dia bisa meghidupi keluarganya?”

Saya juga sempat berfikir, mungkin saya terlalu berlebihan dalam mengambil perasaan terkait kasus pemecatan seorang karyawan. Tapi sayapun tak bisa serta merta disalahkan, sebab pada saat yang sama, saya tempatkan posisi saya sebagai karyawan yang dipecat tersebut. Tentu saya akan merasa kecewa dan sakit hati dengan keputusan bos, yang memecat saya.

Banyak Bos yang Arogan

Sebagai anak buah, saya sudah sangat sering gonta-ganti bos. Mungkin karena saya ini bisa melayani pemimpin, maka saya selalu diajak bicara dari hati ke hati. Begitu banyak bos yang serupa tabiatnya, yaitu gemar memecat karyawan yang dianggap banyak berbuat salah dan tak bisa bekerja. Saya tahu benar, alasan mereka mengapa memecat karyawannya. Secara teknis, sama sekali tak ada masalah. Tapi secara non teknis, timbul suatu masalah yang luar biasa hebat, dan hampir-hampir saya tak percaya.

Semua bos saya yang punya kebiasaan memecat pegawai, pada akhir karirnya mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan. Beberapa diantara mereka akhirnya masuk penjara, karena kalalaiannya sehingga perbuatannya melanggar hukum. Semua bos saya yang tak punya moral, pada akhir cerita pasti mengalami kejadian yang memilukan, antara lain, anaknya terkena kasus Narkoba atau meninggal karena kecelakaan, suami atau istrinya meninggal karena hal yang tak lazim sampai dia sendiri dipecat karena berbuat curang atau melakukan penyelewengan keuangan perusahaan, bahkan ada mantan bos saya yang terganggu jiwanya, karena dia sendiri akhirnya dipecat oleh manajemen pusat.

Only Time Will Tell

Saya tidak berani menyimpulkan sendiri mengapa bisa terjadi demikian. Tapi yang jelas, saya sangat percaya dengan adanya hukum alam, hukum sebab dan akibat. Barang siapa yang menyakiti hati anak buahnya, baik itu disengaja atau tidak, maka suatu saat, alam ini yang akan membalasnya. Entah besok, lusa, atau suatu saat nanti, balasan atas perbuatannya itu, lambat atau cepat pastilah akan datang  juga. Only Time Will Tell, hanya waktu yang akan berbicara.

Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya mengajak anda untuk kembali introspeksi diri. Sebagai seorang atasan, pimpinan atau bos, ada suatu batas yang tak boleh anda langgar. Batas tersebut tidak kasat mata, tapi alam ini yang mencatatnya.  Bila anda sampai menyentuh batas, atau bahkan melewatinya, maka tinggal tunggu saja, anda akan segera memperoleh pembalasannya.

Anak buah adalah mitra kerja. Seburuk apapun kinerjanya, jangan sampai mengecewakan atau menyakiti hati mereka. Sebab doa orang yang teraniyaya sangatlah mujarab dan begitu mudah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Bila memang terpaksa harus memberinya punishment, pertimbangkan terlebih dahulu dengan hati, bukan dengan pemikiran. Walau bagaimana, anak buah anda juga punya kewajiban untuk menghidupi keluarga mereka. Jangan anggap bahwa memecat anak buah adalah solusi yang terbaik. Bilapun harus anda putuskan, maka pastikan bahwa itu adalah hal yang benar benar sangat amat terpaksa harus anda lakukan.

Salam

@donibastian – kerja dan karirHosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 669 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Mengapa Karir Anda “Jalan Ditempat” ?

Mengapa Karir Anda “Jalan Ditempat” ? OPINI | 31 December 2012 | 23:26 Dibaca: 236 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.