Home / Korporasi / Quantum Leap Bisa Berdampak Buruk

Quantum Leap Bisa Berdampak Buruk

Quantum Leap sesuai dengan arti harafiahnya adalah lompatan atau peningkatan yang sangat tinggi. Biasanya hal ini untuk menggambarkan pencapaian bisnis atau target kerja, yang mana terjadi suatu lonjakan yang ekstrim, misalnya pencapaian keuntungan bisnis yang semula ditargetkan hanya 1.000, tetapi ternyata hasilnya adalah 10.000 atau lebih.

Tak hanya itu, suatu perusahaan yang biasanya sesuai data 10 tahun terakhir hanya mempu meningkatkan penjualan pertahun rata rata antara 3- 5 %, tetapi suatu saat meningkat sampai 100 %, itupun juga bisa disebut Quantum Leap. Tak ada ukuran batas minimal tingkat kenaikan yang bisa dikatakan Quantum Leap, tapi yang jelas, tingkat pencapaian target atau hasil seperti itu, tentulah menjadi sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.

Apa yang menarik dari kasus Quantum Leap ?

Keberhasilan seseorang atau perusahaan atau suatu pihak yang mampu melampauii suatu target dalam tingkat prosentase yang ekstrim, tidak serta merta disebut sebagai perwujudan profesionalisme atau kompetensi. Tentu hal ini harus dikaji lebih lanjut sebab musabab dan mekanisme proses didalam rangka mencapai hasil yang luar biasa gemilang itu.

Seringkali terjadi suatu kasus Quantum Leap hanyalah bersifat insidental dan bahkan artifisial saja, karena bila dilakukan penelusuran lebih lanjut, pencapaian hasil yang meningkat luar biasa itu ternyata mengandung berbagai masalah yang bisa mengancam di masa selanjutnya atau minimal bisa menimbulkan kesalahan persepsi yang berdampak buruk.

Beberapa hal mengenai Quantum Leap yang saya tengarai dapat berpotensi menimbulkan dampak buruk antara lain :

1. Faktor Insidental

Sebagai contoh seorang tenaga marketing (salesman) penjualan sepeda motor, yang mana target penjualan motor sudah ditetapkan pada awal tahun sebanyak 60 unit misalnya. Kemudian ternyata salesman tersebut pada akhir tahun berhasil menjual motor sebanyak 250 unit. Tentu saja dalam hal ini si Salesman bisa dikatakan telah berhasil mencetak rekor Quantum Leap dalam memasarkan sepeda motor.

Tetapi apakah ini dengan sendirinya dapat diambil kesimpulan bahwa dia punya kemampuan lebih dibidang marketing dibandingkan dengan rekan-rekan seprofesinya ? Tunggu dulu, usut punya usut, ternyata si pembeli motor adalah bersifat Captive Market, yaitu sebuah perusahaan besar yang mana kebetulan pada saat itu sedang berinvestasi membeli sepeda motor dalam jumlah besar untuk menunjang bisnisnya di bidang jasa pengiriman dan pengantaran surat. Tidak hanya itu, pemilik perusahaan yang membeli motor tersebut ternyata adalah pamannya sendiri.

Juga bisa diambil contoh sebuah perusahaan tiba tiba memperoleh order yang luar biasa besar dari costumernya, sehingga pencapaian penjualan atas produk dihasilkan tahun ini, jauh melampaui target yang tertuang didalam RKAP nya. Ini juga disebabkan semata mata karena adanya faktor insidental saja, sebab belum tentu di tahun berikutnya akan memperoleh jumlah order yang sama besar atau lebih, bisa bisa justru pada tahun berikutnya terjadi sepi order.

Pada kondisi seperti ini, bila top management tidak melakukan evaluasi dan antisipasi dalam menyusun strategi binis yang baik, maka bisa jadi keuntungan besar yang didapat tahun ini, akan hilang percuma untuk membiayai kerugian di tahun tahun berikutnya.

2. Orientasi hanya pada hasil dan mengabaikan sistem/prosedur.

Quantum Leap yang berhasil diwujudkan, namun tidak dibarengi dengan antisipasi terhadap penyusunan sistem dan prosedur, ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Pembangunan sebuah rumah 3 lantai misalnya, yang semula dijadwalkan selesai dalam 12 bulan, tentu dimaksudkan agar sesuai dengan perencanaan dan prosedur teknis yang benar sehingga diperoleh struktur bangunan yang baik dan aman untuk dipergunakan sebagai rumah tinggal.

Bila kontraktor pembangunan rumah tersebut sengaja tidak membangun terlebih dahulu pondasi dengan benar dan hanya berorientasi terhadap hasil pembangunan yang terlihat secara fisik saja, maka dalam tempo 3 bulan saja, sudah bisa berdiri rumah itu. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya ? Sudah bisa dipastikan, tidak berapa lama kemudian, rumah itu 3 lantai itu pun akan segera ambruk, karena berdiri diatas tanah yang tidak berpondasi.

3. Persepsi yang keliru.

Quantum Leap tidak bisa semata mata dipandang sebagai prestasi yang luar biasa. Sebab bila salah dalam menafsirkan kasus Quantum Leap, maka akan berdampak buruk pada masa selanjutnya. Seorang pemilik perusahaan yang ‘gelap mata’ melihat hasil keuntungan yang luar biasa dibanding tahun sebelumnya, kemudian secara membabi buta membangun jaringan bisnis dan cabang di mana mana dengan harapan ditahun berikutnya hasil keuntungannya bisa berlipat ganda, tanpa melakukan evaluasi dan analisis yang benar terhadap bisnisnya, adalah sebuah contoh kekeliruan persepsi terhadap kasus Quantum Leap. Bila itu dilakukannya, maka harapannya yang setinggi langit untuk meraup keuntungan, bisa berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang sangat menyeramkan.

Dari apa yang sudah saya sampaikan, ternyata ada benarnya sebuah syair lagu yang mengatakan bahwa “lebih baik yang sedang sedang saja‘. Maksud yang tersirat dalam kalimat itu adalah, pertumbuhan yang perlahan namun pasti, akan memberikan hasil yang memuaskan dimasa mendatang. Hal ini identik dengan tubuh bayi yang tumbuh dan berkembang secara perlahan dan bertahap, yang mana menyediakan cukup waktu dan kesempatan secara natural untuk membangun sel sel dan organ organ tubuhnya sendiri secara baik dan sempurna menjadi tubuh seorang dewasa yang kuat dan kokoh.

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 2,076 x, today 6 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.