Home / Lembaga / KPK Tidak Memberantas Korupsi !

KPK Tidak Memberantas Korupsi !

kpk2OPINI | 10 January 2011 | 05:07 Memberantas, konotasinya adalah menghilangkan sampai habis sama sekali. Memberantas korupsi berarti menghilangkan korupsi sampai akar akarnya.

Sepintas tujuan pemberantasan korupsi tersebut memang baik dan mulia, tapi bila ditelaah lebih dalam, hal tersebut sangat idealis, bila tidak boleh dikatakan tidak mungkin akan berhasil dengan baik.

Jangankan memberantas, baru menangkap koruptor saja sudah susah, apalagi bisa sampai menghukumnya, mengikis habis sampai keakar akarnya adalah sesuatu yang mustahil.

Seperti kita ketahui bersama, tidaklah gampang menjerat koruptor, sebab mereka ini bukan orang bodoh, bukan orang lugu, dan bukan orang miskin. Sebaliknya koruptor adalah orang pandai, cerdas dan licik, kaya dan banyak uang, serta banyak kenal dengan pejabat dan penguasa lainnya.

Mereka tahu benar apa yang dilakukan dan sangat paham akan resikonya. Mereka melakukan korupsi bukan tidak disengaja, mereka tahu, bahkan merencanakannya dengan sangat rapi. Segala tindakannya sudah diatur sedemikian rupa, bahkan dilakukan secara sistematik, sehingga sangat sulit melacak apa yang telah mereka lakukan.

Saya dan anda yang merasa tidak pernah melakukan perbuatan korupsi, atau yang berpura pura ‘bersih’ selalu menyatakan bahwa korupsi itu haram hukumnya. Memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan menggunakan kekuasaan atau wewenangnya dianggap perbuatan yang tidak terpuji, atau bisa disebut (maaf) Maling/Pencuri.

Tapi mungkin hal ini karena kita tidak berada dalam lingkaran/atmosfir para koruptor, atau bisa juga karena kita memang bukan pejabat yang punya kekuasaan dan wewenang yang cukup untuk melakukan korupsi. Suatu saat bila kita berada didalam kondisi yang ‘memaksa’ kita ikut arus, tidak mustahil bila kita juga bisa berubah menjadi koruptor, bahkan bisa lebih ‘gila’.

Maaf, pernyataan saya ini bukan berarti saya mengesampingkan peran moral dan Agama yang bisa membentengi kita dari perbuatan korupsi. Tidak, sama sekali tidak.

Saya juga yakin, bahwa masih ada diantara kita yang tetap konsisten untuk tidak melakukan korupsi didalam kondisi apapun juga, tetapi kita juga harus menyadari bahwa kita ini hanyalah manusia bisa yang mudah lupa, khilaf dan melakukan kesalahan.

KPK untuk memberantas Korupsi ?

Terus terang saya tidak yakin dengan KPK yang bisa memberantas korupsi. Bila sekedar menangkap koruptor, menahan, dan mengajukan perkara korupsinya ke meja hijau, itu Ya. Sudah banyak dan sering, tapi untuk memberi hukuman kepada Koruptor memang bukan ‘wilayah’ KPK.

Cara menangkap Koruptor

Saya ibaratkan seperti kita menangkap tikus.

Banyak cara menangkap tikus, diantaranya dengan mengejar mereka sambil bawa pentungan, begitu sasaran sudah dalam jangkauan, tinggal kita gebuk.. buk… matilah sang tikus.

Ada lagi dengan cara menguntit si tikus secara diam diam, perlahan jangan sampai tahu keberadaan kita. Begitu dia lengah, kita gebuk lagi.. buk… satu tikus mati lagi.

Ada juga dengan memasang perangkap, kita kasih pancingan dengan ‘makanan’ kesukaannya, si tikus datang untuk mengambil ‘makanan’, ketika makanan ‘ditarik-tarik’ mau dibawa pergi, prekkk.. kejepitlah si tikus..

Itulah kira kira analogi bagaimana KPK menangkap Koruptor. Bedanya KPK adalah institusi formal yang dilindungi undang undang, yang terdiri dari aparat aparat penegak hukum yang profesional, yang diberi tugas khusus untuk memberantas korupsi, diberi kekuasaan dan wewenang penuh untuk menjerat para koruptor.

Mengapa harus dengan istilah memberantas ?

Apakah menurut anda dengan memberantas korupsi akan menjamin bahwa korupsi tidak akan tumbuh lagi ?

Ekstrimnya, bila seluruh koruptor yang ada sudah tertangkap, apakah itu berarti tidak akan timbul lagi orang yang korupsi ?

Tidak. Koruptor bukan benda mati yang dengan mudah kita hilangkan dengan menangkap yang sudah ada saja. Korupsi saat ini sudah menjadi budaya dan bahkan menjadi kultur dan sistem turun temurun yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Sehingga bila kita hanya menangkap orangnya saja (koruptor), saya yakin, tetap saja akan ada lagi orang orang pengganti yang sudah punya ‘ideologi’ korupsi dibenak dan hatinya.

Mencegah lebih baik dari ‘mengobati’

Dari hal yang sudah saya kemukakan diatas, saya terpikir suatu model cara pemberantasan koruspsi yang cukup efektip. Fokusnya bukan pada bagaimana menangkap koruptor, tetapi bagaimana cara mencegah agar orang tidak lagi mau berbuat korupsi. Bila orang sudah tidak mau lagi berbuat korupsi, tentu saja hal dapat dikatakan bahwa korupsi telah berhasil kita berantas.

Saya disini tidak ingin mengatakan bahwa apa yang telah diwujudkan oleh KPK dalam menangkap para koruptor tidak berarti atau tidak ada gunanya. Tidak bukan itu. Justru saya salut dan sampaikan penghargaan setinggi tingginya kepada KPK atas keberanian para patugasnya dalam mengungkap kasus kasus korupsi.

Tapi pada tulisan saya ini, saya memandang dari sudut metoda dan mekanisme pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK yang saya rasa tidak tepat benar.

Asumsi saya sederhana saja, manusia punya pikiran, perasaan dan juga naluri. Korupsi itu ada selain karena adanya kesempatan, yang paling utama adalah karena adanya niat dari seseorang untuk melakukan korupsi.

Nah, bagaimana caranya agar orang tidak berniat lagi ? Tentu harus kita tunjukkan bahwa bila mereka korupsi pasti akan membuatnya malu dan sengsara. Yaitu malu karena kehilangan martabat diri dan keluarganya, dan sengsara berada di dalam jeruji penjara.

Tidak perlu menunggu sampai mereka berbuat korupsi.

Bagaimana bisa menangkap seorang koruptor, bila dia belum berbuat apa apa ?

Itu barangkali pertanyaannya.

Ya, memang tidak bisa ditangkap, karena tidak ada bukti, dan memang belum dilakukan.

Tapi meski demikian, menurut saya, justru sebelum melakukan korupsi, mereka kita tangkap duluan !!

Untuk memberantas korupsi, maka yang perlu kita berantas seharusnya adalah MENTAL KORUPTOR bukan pelakunya !

Bagaimana caranya ?

KPK harus membuat suatu bagian dari organisasi yang khusus mengawasi mental dan perilaku para pejabat, calon pejabat dan petugas petugas terkait.

Seluruh pejabat diharuskan lulus ujian psikotest, untuk mengukur sejauh mana kecenderungannya berbuat korupsi.

Ini sebagai syarat mengikuti Fit and Proper Test, yaitu harus lulus test anti korupsi.

Tidak itu saja, KPK juga harus memiliki unit khusus yang mana tugasnya adalah melakukan penyamaran penyamaran, sandiwara-sandiwara yang bertujuan untuk menguji sejauh mana pejabat bisa dan mau diajak korupsi, dan juga bisa digunakan untuk melacak atau menelusuri mata rantai sistem korupsi di sebuah instansi/organisasi.

Bisa saja unit khusus ini bekerja sama para aktor dan aktris yang akan melakukan peran langsung dilapangan. Mereka juga dibekali dengan micro camera dan alat rekam tersembunyi.

Hasil opreasi tim, dilaporkan kepada pejabat pengambil keputusan, sebagai referensi dan rekomendasi untuk memberhentikan seorang pejabat yang telah terindikasi memiliki mental koruptor. Jadi dengan demikian, kita tidak perlu lagi menunggu kehilangan uang Triliunan rupiah akibat kinerja para koruptor tersebut.

Dengan demikian, para pejabat akan berubah menjadi sangat berhati hati dalam melakukan tugas pekerjaannya, terutama akan selalu curiga, jangan jangan ada petugas KPK yang sedang menyamar.

Ya, saya rasa tradisi penyamaran ini harus di blow up besar besaran di media massa, agar semua orang tahu, bahwa setiap saat, petugas KPK bisa melakukan penyamaran. Tentu saja, tugas penyamaran dari KPK ini harus dilandasi dengan Undang Undang yang melindunginya .

Bila sudah banyak kejadian dimana para pejabat yang tertangkap basah bermental korupsi didalam operasi penyamaran KPK, tentu hal ini membuat semua orang, minimal akan berhati hati atau takut melakukan upaya upaya korupsi.

Pasti akan timbul pertanyaan ? Apakah ini tidak melanggar privasi orang ? Juga bagaimana cara merumuskan dan menyatakan bahwa seseorang bermental korupsi, padahal bukti yang ada hanyalah sebagai akibat dari sebuah sandiwara ? Dengan mudah juga seseorang mengelaknya bukan ?.

Ya, memang ini melanggar privasi dan mudah sekali untuk tidak mengakuinya. Tetapi bila seseorang sedang menjalankan dinas apalagi mengemban tugas negara, seharusnya tidak ada lagi alasan privasi. Itu hanya alasan yang dicari cari saja.

Sebagai contoh riil :

Ada seorang pejabat yang baru saja dilantik. Pejabat ini tugasnya adalah mengurusi pengadaan barang dan jasa. Tempat yang sangat ‘subur’ untuk ‘berkembang biak’ korupsi. Suatu ketika diadakan lelang/tender pengadaan komputer sekian ratus set yang akan ditempatkan di kantor daerah di diseluruh Indonesia dengan total nilai proyek sekian ratus Milyard Rupiah.

Disinilah KPK bisa menempatkan para petugasnya menyamar sebagai perusahaan peserta Lelang misalnya. Seluruh proses penyamaran dilakukan dengan rapi sehingga pejabat tersebut sama sekali tidak mengetahui perihal penyamaran ini.

Tibalah saatnya untuk menguji mental koruptor si pejabat. Seorang gadis cantik ‘dipakai’ sebagai umpan untuk mengajak pejabat tersebut datang ke sebuah hotel berbintang, dengan alasan untuk membicarakan lelang.

Apakah si pejabat bersedia atau tidak, disini sudah bisa diukur mentalitasnya. Bila bersedia datang ke hotel tersebut, dipersiapkan jebakan kedua. Yaitu diajaklah si pejabat menginap di hotel tsb dikarenakan alasan sudah malam, padahal baru jam 19.00.

Bila tetap bersedia, maka diteruskan kedalam jabakan berikutnya demikian seterusnya hingga terakhir apakah si pejabat mau menerima sejumlah uang agar bisa meloloskan perusahaan sebagai pemenang Lelang/Tender.

Bila si pejabat telah berani menerima uang ‘haram’ dan mau mengemban ‘misi gila’nya, maka sudah cukuplah ini semua sebagai bukti bahwa si pejabat memang bermental koruptor.

Sebagai kesimpulan saya, untuk bisa memberantas korupsi bukan hanya dengan cara menangkap dan menghukum para koruptor, tetapi juga dengan menghindari adanya mental koruptor dan menangkap orang yang bermental koruptor.

Barangkali KPK bisa dirubah menjadi KPKMK yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi dan Mental Koruptor.

Salam.

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 56 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.