Home / Media / Iklan, Sejauh Mana Bisa Dipercaya?

Iklan, Sejauh Mana Bisa Dipercaya?

Iklan, Sejauh Mana Bisa Dipercaya?

OPINI | 10 January 2013 | 14:15 Dibaca: 325   Komentar: 0  

Iklan atau yang biasa disebut ad/advertisement atau commercial bila tampil di televisi, telah kita ketahui sebagai sarana untuk memperkenalkan atau mempromosikan sebuah produk atau jasa. Oleh karena itu, materi atau konten yang terkandung didalam sebuah iklan, tentulah di buat sedemikian rupa agar menarik untuk dibaca dan tercapai tujuannya yaitu setelah membaca atau melihat sebuah iklan maka calon konsumen atau pengguna tertarik untuk  atau beralih menggunakan produk atau jasa tertentu.

Spot iklan terutama di Televisi atau Radio, tentu dibatasi  durasi waktunya. Sebab sebuah iklan  yang terlalu panjang selain membosankan para audience, juga dapat mengganggu estetika penayangan sebuah acara TV atau Radio.  Durasi Spot iklan lazimnya antara 30 s/d 60 detik saja. Meski ada yang lebih beberapa detik, yang tentu dibebani tarip  biaya yang lebih besar,  namun sebuah iklan tidak akan ditayangkan sampai bermenit menit waktunya, kecuali spot program/acara.  Juga pemasangan  iklan di media cetak dan media maya (internet) juga dibatasi oleh space (ruang).  Olah karena keterbatasan durasi dan space iklan, maka pemasang iklan dituntut untuk bisa menampilkan konten yang singkat dan menarik untuk dibaca atau dilihat atau dengan kata lain punya efek teaser yang kuat.

Terlepas dari siapa atau pihak pemasang iklan, jenis produk atau jasa, juga media massa yang melansir, pada dasarnya sebuah iklan, khususnya iklan untuk produk atau jasa komersial  seringkali atau bahkan lebih banyak memuat konten dan materi yang bisa menjebak atau menipu para calon konsumen atau pengguna produk/jasanya. Banyak sekali jenis iklan yang antara materi/konten dengan realisasi atau kenyataannya tidaklah sama atau bahkan jauh berbeda.

Yang sering kita jumpai seperti pada iklan Shampoo. Semua produk shampoo  meng-klaim bahwa kualitas produk merekalah  yang paling baik. Saya bukannya tidak setuju atau melarang mereka yang seakan mengagung-agungkan produk mereka sendiri, sebab saya paham bahwa memang tujuan mereka adalah agar dapat menarik sebanyak mungkin calon konsumen untuk menggunakan produk mereka. Tapi ada yang terasa janggal ketika produsen shampoo tersebut mengklaim bahwa produk mereka bisa menghitamkan rambut, menghentikan rontok, menghilangkan rambut pecah pecah, dlsb.

Sekarang bila kita cermati, bagaimana bisa sebuah shampoo menghitamkan rambut  tanpa ada keterangan atau penjelasan lebih lanjut dalam iklan mereka ? Maksud saya, sedemikian mudah iklan tsb. menganjurkan para pengguna yang punya problem misalnya rambut rontok, untuk menggunakan shampoo mereka agar tidak ada lagi masalah rambut rontok. Padahal seperti kita ketahui, tidaklah semudah itu menyelesaikan masalah rambut rontok bukan ?.  Tentu dibutuhkan tenaga ahli untuk menangani secara intensip dan juga perlu dilakukan diagnosa terhadap penyebab terjadinya permasalahan rambut tersebut.  Tanpa itu, bila anda sekedar menggunakan shampoo, tanpa ada treatment khusus, jangan harap bisa menyelesaikan persoalan, hanya buang buang uang dan waktu, bisa bisa malah memperparah kondisi rambut anda.

Juga pada produk kosmetik, misalnya pemutih kulit wajah. Ada iklan semacam bedak  yang ditayangkan sungguh menggoda, yaitu bisa memutihkan kulit muka dengan cepat yaitu hanya dalam seminggu saja ! Saya dalam hati juga merasa geli, ada ada saja iklan semacam itu. Saya rasa, itu benar bisa memutihkan kulit muka karena yang berwarna putih adalah bedak, sedangkan warna kulitnya tetap saja. Artinya,  kulit wajah tentu akan kelihatan putih, karena sedang memakai bedak. Tapi coba lihat ketika habis mandi, warna kulitnya kembali seperti semula lagi.

Tapi anehnya, ada saja yang terpengaruh dengan sebuah iklan dan kemudian membelinya. Saya tidak tahu, apa yang mendasari atau motivasi dari pembeli sebuah produk atau jasa tersebut. Apakah memang percaya pada iklan semacam itu, ataukan ingin sekedar coba coba (siapa tahu berhasil)  atau memang sudah tahu semua iklan itu bohong, dan yang penting bisa memakainya atau sudah frustasi karena mencoba produk yang lainnya sama saja ?

Ada lagi yang sangat lazim dilakukan oleh penyedia jasa koneksi internet (internet provider). Untuk menarik para pengguna koneksi internet, mereka dengan berani dan percaya diri mengklaim kecepatan akses internet yang mereka sediakan bisa cukup tinggi yaitu  mencapai range antara sekian Mbps sampai belasan  Mbps.

Rasanya ini sangat tidak fair, karena sesuai pengalaman saya, tak pernah sekalipun koneksi internet mencapai pada puncak kecepatan yang mereka janjikan sampai belasan Mbps itu. Alasannya klasik dan klise, yaitu tergantung seberapa banyak pengguna yang sedang terkoneksi pada saat yang bersamaan. Semakin banyak yang tekoneksi, semakin lemot.  Nah bila begini kondisinya, sampai kapanpun, kita tak akan bisa memperoleh kecepatan maksimal. Bahkan pada saat dini haripun, ketika banyak orang yang terlelap, tetap saja kecepatannya tidak maksimal, bahkan tidak pernah mencapai setengahnya.

Masih banyak contoh kasus iklan yang membodohi para konsumennya. Fenomena ini sudah berjalan sejak  puluhan tahun silam dan lambat laun hingga sekarang  telah menjadi sebuah hal yang umum terjadi. Namun demikian hal ini juga tidak bisa dibiarkan berlangsung terus menerus, sebab menebar kebohongan publik melalui iklan juga dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.

Memang di Indonesia sudah ada Lembaga Perlindungan Konsumen, yang mana bisa melakukan tuntutan hukum kepada produsen suatu prosuk bila terbukti merugikan konsumen, namun entah kenapa, masih kurang nampak gregetnya. Apakah karena terlalu banyaknya keluhan konsumen atau terlalu milih-milih kasus tertentu saja ?

Selain itu adapula lembaga lain yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang tugasnya memantau segala bentuk acara yang ditayangkan oleh televisi swasta. Seharusnya konten dan materi iklan juga tidak luput dari pengawasan mereka. Jangan sampai televisi  dipakai sebagai media penipuan publik terkait produk produk komersial yang ditayangkan. Untuk itu apakah perlu didirikan semacam Badan Sensor Iklan (BSI) ? 🙂

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 141 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.