Press "Enter" to skip to content

Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’, Salah Pilih Judul, Hasilnya Amburadul

fim kucumu

Ada sebuah Film yang di sutradarai oleh Garin Nogroho namun sayang sebelum tayang, sudah menimbulkan kontroversi dikalangan masyarakat luas. Ada apa gerangan? Mungkin lantaran judulnya yang kurang nyaman di dengar oleh sebagian kalangan yaitu “Kucumbu Tubuh Indahku”

Analisis saya sederhana saja.  Sebagaimana diketahui, masyarakat kita terdiri dari berbagai kalangan, bagi dari segi status ekonomi, sosial, keagamaan dlsb  Selain itu juga adanya perbedaaan tingkat intelektualitas yang mana tentu tidak semua orang bisa mengerti dan memahami maksud dari sebuah judul film.

Jika dipahami secara harafiah, judul film “Kucumbu Tubuh Indahku” sepintas memang terdengar kurang etis. Mungkin bagi para sastrawan, penulis dan kalangan yang mengerti seni menata kalimat, itu bukan persoalan. Tapi bagaimana dengan masyarakat awam?

MAKNA KALIMAT

Mari kita kupas  satu per satu kalimat ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ . Di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kata cumbu sebagai berikut :

cum-bu : 1 kata-kata manis yg dipakai untuk membujuk (waktu berkasih-kasihan dsb): — rayu diperlukan terus-menerus untuk keutuhan rumah tangga; 2 senda gurau; lelucon (kelakar, olok-olok, dsb): spt — si tukang lawak;
ber-cum-bu : 1. bersenda gurau; berkelakar; 2 saling mencumbu (dl bercinta-cintaan);
~ rayu saling merayu; saling mencumbu;
ber-cum-bu-cum-bu  1 saling mengggunakan kata-kata yg manis dl bercinta-cintaan (bersuka-sukaan dsb); 2 bersenda gurau; berkelakar;
ber-cum-bu-cum-bu-an  saling mencumbu;
men-cum-bu  memakai kata-kata manis untuk membujuk (membelai-belai dsb);
men-cum-bui  mencumbu berkali-kali;
cum-bu-an 1 kata-kata manis; bujukan; 2 lelucon; senda gurau;
per-cum-bu-an perihal bercumbu: ~ di kalangan salem sangat menarik para ilmuwan

Dari kata ‘bercumbu’ dapat dimaknai ‘bercinta-cintaan’, ‘merayu’, ‘membelai-belai’. Perilaku ini sewajarnya dilakukan oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Namun kata ‘cumbu’ dalam judul film tersebut diikuti oleh kata ‘tubuh indahku’. Ini yang jadi persoalan.

Mencumbu kok tubuhnya sendiri?   Aneh bukan? Atau bisa saja berarti mencumbu tubuh sesorang sesama jenis, sebab mewakili kata ‘ku‘ yang berarti sesama.

Sekali lagi, saya bisa memahami, bahwa judul film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ merupakan kalimat bersayap, tepatnya sebuah kalimat puitis. Dalam memahami sebuah kalimat puitis, masing-masing individu punya persepsi sendiri-sendiri.

Oleh sebab itulah maka wajar saja jika ada sebagian kalangan yang tidak bisa menerima kalimat itu dan berpandangan negatif bahwa sepintas dari judulnya saja, seolah mengajak penonton untuk ikut menyaksikan perilaku kalangan LGBT.

Padahal, apa yang ada di dalam film tersebut tidak semata-mata menampilkan perilaku sesama jenis atau dari kalangan LGBT, namun sebatas mengekspos kisah kehidupan seorang laki-laki sebagai penari tradisional yang terus berjuang untuk memperbaiki kehidupannya.

THE POWER OF TITLE

Sebuah judul, baik itu untuk karya tulis seperti buku, majalah, artikel dlsb  juga untuk sebuah film, sangat diperlukan keberadaannya. Pemilihan judul yang tepat dapat memberi dampak positif secara komersial terhadap hasil pemasaran produk. Itulah yang dinamakan kekuatan atau dahsyatnya sebuah judul (The Power of Title).

Namun demikian, sebaliknya jika salah atau keliru dalam menyematkan judul, maka hasilnya juga akan membuat semuanya amburadul.   Seperti pada kasus judul pada Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ ini.

DAMPAK NEGATIF YANG TIMBUL

Judul film ini memang cukup artistik jika dipandang dari kacamata seni sastra. Namun demikian, sangat sensitif bagi masyarakat di Indonesia yang dikenal sangat menjunjung tinggi etika dan moral.

Pemahaman yang keliru terhadap judul film ini memicu adanya gerakan untuk memboikot atau menolak untuk nonton film ini, antara lain disampaikan melalui petisi, juga menjadi viral di berbagai media sosial

Bahkan untuk video Thriller Film ‘Kucumbu Tubuh Indaku’ di situs Youtube sudah ditonton lebih dari 135.000 orang namun jumlah penonton yang tidak suka atau klik dislike sejumlah lebih dari 4.000 orang, sedangkan untuk like hanya sekitar 120 orang. Sangat memprihatinkan memang.

SEGUDANG PRESTASI INTERNASIONAL

Dibalik kontroversi di dalam massyarakat, terkait judul yang dinilai vulgar, sesungguhnya film ini cukup berkualitas, sehingga memperoleh berbagai penghargaan antara lain pada acara ASIA PASIFIC SCREEN AWARDS (2018) di Australia dan ‘Bisato D’oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Perancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018).

Di akhir artikel ini saya ikut menyayangkan kasus ini. Jika saja dalam memilih judul yang lebih disesuaikan dengan karakter masyarakat Indonesia, maka saya yakin, hasilnya akan sangat memuaskan, baik secara komersial maupun secara faktual untuk mengangkat derajat film Indonesia di mata internasional.

Salam..

(Visited 629 times, 1 visits today)

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.