Home / Metropolitan / Ranjau Paku, Sampai Kapan Bisa Diberantas?

Ranjau Paku, Sampai Kapan Bisa Diberantas?

REP | 15 August 2012 | 20:36

Ranjau Paku adalah sebutan untuk paku paku yang sengaja di tebar dijalanan oleh pihak pihak yang ingin memperoleh keuntungan sendiri dengan menyengsarakan orang lain. Mekanismenya sederhana saja, bila paku yang berukuran 3 s/d  4 cm ditebar dijalanan dan terlindas oleh ban kendaraan yang melintas, maka dapat membuat ban bocor. Semakin banyak paku ditebar, semakin besar kemungkinan menyebabkan ban bocor. Kalau ban sudah bocor, mau tak mau harus mencari tukang tambal ban, sebab bila dipaksa jalan jauh, maka dapat dapat  mengakibatkan kerusakan pada ban.

Fenomena ini sudah mulai meresahkan para pengendara kendaraan bermotor khususnya di ibukota  Jakarta. Bukan masalah ongkos tambal ban yang sekitar Rp. 7.000 – Rp. 8000 per lobang bocor, tapi kehilangan waktu karena harus menunggu proses tambal ban (belum lagi kalau mengantri), dan khusus pengendara motor, biasa jadi tenaga terkuras  akibat terpaksa mendorong sepeda motornya mencari lokasi tambal ban yang cukup jauh dari TKP.

Data yang cukup mencengangkan dari ‘kegiatan’ ini adalah bahwa selama setahun, sesuai catatan Komunitas SABER telah mengumpulkan ranjau paku selama setahun seberat 1 TON !!

Itu baru yang berhasil dikumpulkan, bila ditotal dengan yang belum ‘tertangkap tangan’ maka kemungkinan besar jumlah ranjau paku yang telah ditebar dijalan selama setahun akan lebih dari 1 TON. Berarti bila diambil rata rata, per bulan jumlah paku ranjau yang ditebar minimal 85 Kg.  Jadi per hari minimal ditebar 2 – 3 kg !

HIPOTESA  PAKU RANJAU

Mengapa bisa ada paku bertebaran dijalanan ? Bagaimana paku ranjau ada dijalanan ?

Mengenai hal tersebut, ada 2  hipotesa yaitu :

  1. Unsur Ketidaksengajaan.

Ada paku dijalan bisa saja terjadi akibat ketidak sengajaan orang yang membawa paku, tumpah dijalan, atau barangkali ada truk yang memuat paku ada sebagian tercecer dijalan, atau kemungkinan bisa saja paku yang sedang ditancapkan  terpelanting ke jalan dan masih banyak kemungkinan lain penyebab adanya paku dijalan. Tapi bila benar semua kemungkina itu terjadi, maka jumlah paku yang tak sengaja terbuang di jalan tentulah relatip sedikit. Bila dikumpulkan dalam setahun, paku yang tak sengaja terbuang dijalanan di Jakarta mungkin hanya beberapa kg saja, tetapi faktanya jumlah paku yang terkumpul selama setahun mancapai 1 Ton lebih. Dengan demikian Hipotesa ini gugur, artinya paku yang ada dijalanan memang sengaja ditebar.

  1. Unsur Kesengajaan.

Hipotesa yang kedua  adalah bahwa paku yang ditebar dijalan adalah karena memang sengaja dilakukan oleh  orang/pihak tertentu.  Tapi mengapa hanya pihak tertentu yang sengaja menebar paku ?

Ya, tentu saja hanya  pihak yang terkait dan mengambil keuntungan dari rangkaian sebab akibat adanya paku ranjau ini.

Manalah mungkin orang yang iseng menebar paku dijalan sampai 1 Ton setahun ?

Jadi,  siapa yang menebar paku, tentu saja pihak yang terkait baik langsung maupun tak langsung memperoleh keuntungan dari kasus ini ? Disini bukan tempat untuk menuduh siapa yang menebar paku, tetapi sekedar analisis hubungan sebab dan akibat.

Siapa yang diuntungkan dengan adanya ranjau paku ?  Tentu jasa tambal ban akan meningkat omsetnya berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah ban bocor.

Dengan demikian Hipotesa ini telah terbukti bahwa paku ranjau adalah sengaja ditebar.

KONTROVERSI BISNIS TAMBAL BAN

Dengan maraknya kasus Ranjau Paku, bisnis yang terkait langsung dan sebagai sasaran tuduhan pelakunya adalah tukang tambal ban. Sebab apapun alasannya, sulit sekali bagi mereka untuk mengelak. Tapi Negara ini Negara hukum.  Tidak bisa sembarangan menuduh orang tanpa ada buktinya, atau dengan kata lain, tidak semua tukang tambal ban yang menebar paku ranjau, atau bisa dikatakan bahwa penebar paku ranjau adalah oknum.

Memang dalam bisnis tambal ban, jasa utama yang ditawarkannya adalah menambal ban yang bocor akibat kena paku atau sebab lainnya. Dengan demikian semakin banyak ban yang bocor, maka semakin sering jasanya digunakan orang alias usaha makin untung. Logika inilah yang dipakai untuk mengaitkan antara paku ranjau dengan keuntungan bisnis tambal ban. Memang tidak salah logika itu, tapi bukan berarti  pasti benar begitu kejadiannya.

MERESAHKAN MASYARAKAT PENGGUNA KENDARAAN BERMOTOR

Yang paling dirugikan dengan paku ranjau adalah terutama para pengendara sepeda motor, sebab sebagian besar ban sepeda motor masih menggunakan ban dalam.  Mengapa mereka masih menggunakan ban dalam ? Ya, yang pertama adalah karena standar pabrik motor baru adalah masih menggunakan ban dalam.  Yang kedua harga ban Tubeless (non ban dalam) hanganya relatip lebih mahal, sehingga keputusan pemilik sepeda motor untuk mengganti ban menjadi tubeless harus dipikirkan beberapa kali.

Namun demikian bukan berarti menggunakan ban tubeless akan terhindar dari paku ranjau, sebab bentuk paku ranjau sudah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga ban jenis dan merek apapun jika melindasnya, pasti akan bocor.

Kalau sudah begini, ranjau paku tentu akan mengancam kenyamanan dan keselamatan berkendara bagi setiap penggguna lalu lintas.

KOMUNITAS SABER

Karena merasa prihatin, ada sekumpulan orang yang bersedia dengan sukarela memunguti paku ranjau dijalanan. Mereka punya wadah bernama Komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku (SABER) yang bermarkas di Cengkareng. Tujuan organisasi ini mulia sekali, yaitu secara tidak langsung mengurangi dan menghidari banyaknya korban ‘keganasan’ paku ranjau. Bahkan Kapolda Metro Jaya telah memberikan penghargaan dan perhatian khusus untuk organisasi ini, karena telah secara langsung membantu Kepolisian dalam memerangi Ranjau Paku.

UPAYA PEMERINTAH MEMBERANTAS RANJAU PAKU

Karena dianggap telah meresahkan masayarakat, maka aparat pemerintah daerah dan kepolisian  telah membuat satuan satuan khusus untuk memberantas Ranjau Paku ini. Mulai dari pengadaan perlengkapan ‘penyapu ranjau’ antara lain digunakan otopet dan mobil golf yang dimodifikasi menjadi penyapu ranjau.

Polda Metro juga telah meningkatkan intensitasnya membersihkan jalanan ibukota dari paku ranjau dan pengawasan terhadap para pelaku penebar paku ranjau. Polisi Pamong Praja juga mulai melakukan penertiban kepada para tukang tambal ban, termasuk memberikan pembinaan kepada para tukang tambal ban agar menjalankan usahanya dengan cara cara yang tidak  merugikan orang lain.

Tapi semua yang telah dilaksanakan oleh pemerintah  tidak terfokus pada pokok permasalahan untuk memberantas ranjau paku. Ibaratnya, yang dilakukan hanyalah mengobati sakit tapi tidak menghilangkan penyakit.

Memang setelah mobil dan semua alat penyapu ranjau digunakan, seketika itu juga paku ranjau akan hilang. Tapi setelah itu, ketika semua mobil penyapu ranjau dan alat alat sudah kembali ke garasi,  paku paku itu akan bermunculan lagi !

Kalau caranya begini,  sampai kapan ranjau paku bisa diberantas ?

SOLUSI PENYELESAIAN MASALAH

Penulis punya gagasan untuk memberantas Ranjau Paku, namun tidak mudah dilaksanakan, karena menyangkut kebijakan pemerintah dan berdampak langsung kepada usaha jasa tambal ban.

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi pokok masalah adalah adanya pihak yang menginginkan memperoleh keuntungan dangan menebar paku ranjau. Ditengarai dari analisis sebab akibat  dan logika maka yang menjadi target penataan ulang  adalah bisnis jasa tambal ban.

Sebagaimana diketahui, bisnis tambal ban sesungguhnya dikuasai oleh beberapa orang saja. Jangan dianggap bahwa setiap tukang tambal ban itu berdiri sendiri. Tidak, mereka punya boss yang membiayai peralatan tambal ban seperti Compressor, dongkrak  dll.

Ada semacam jaringan tukang tambal ban, khususnya di Jakarta. Artinya, dibalik itu,  bisnis ini digerakkan  oleh beberapa pengusaha besar.  Strategi untuk meningkatkan omset, erat kaitannya  dengan fenomena Ranjau Paku, sebab bila tidak, bagaimana bisa berdampak begitu luas meliputi seluruh wilayah Jakarta ?

Dalam hal ini pemerintah harus segera menertibkan seluruh tukang tambal ban yang ada, dan di arahkan untuk memenuhi persyaratan sesuai peraturan daerah.

Sudah waktunya dikaji kembali, tataniaga bisnis Tambal Ban. Perlu diatur lokasi dan jumlah tukang tambal ban, sehingga dapat menghindari persaingan tidak sehat. Jarak antar tukang tambal ban harus sesuai dengan ketentuan. Bila hal ini dilaksanakan, niscaya akan mengurangi secara drastis jumlah ranjau paku di Jakarta, sebab jumlah penambal ban liar sudah jauh berkurang.

MEMBERANTAS HABIS RANJAU PAKU

Untuk memberantas habis Paku Ranjau hanya ada satu solusinya, yaitu pemerintah harus  mengambil alih seluruh bisnis tambal ban yang ada di Jakarta dan melarang penambal ban sembarangan.

Ada 2 alternatip peran pemerintah dalam hal ini, yang pertama adalah pemerintah daerah mengambil alih semua bisnis tambal ban dan mengelola menjadi sebuah Badan Usaha Milik Daerah atau dengan menunjuk perusahaan swasta untuk mengelolanya..

Bisnis tambal ban yang sekarang terkesan ‘kumuh’, bisa disulap menjadi sebuah bengkel tambal ban yang modern dan dikelola secara serius dan professional.

Bila perlu dengan menyediakan Layanan Gerak, yaitu dengan fasilitas penjemputan yang  langsung mendatangi lokasi  kendaraan yang bermasalah dengan ban bocor atau perbaikan ditempat.

Alternatip kedua yaitu dengan membuka  pos pos layanan tambal ban yang menyediakan jasa tambal ban secara gratis. Lokasi dan jumlah pos telah dirancang sedemikian sehingga dapat  menjangkau titik titik keramaian. Hal ini  dipubilkasikan kepada masyarakat, sehingga setiap warga akan tahu dimana pos tambal ban terdekat dan semuanya ini dibiayai melalui APBD.

Dengan demikian tidak akan ada lagi orang yang membuang paku dijalanan. Untuk apa ? Toh menambal ban tidak dipungut bayaran ?.

Hal ini tentu akan jauh meringankan tugas para relawan di Komunitas SABER, sebab paku yang ada dijalanan tinggal sedikit atau malah tidak ada sama sekali.

Semoga..

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 238 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.