Home / Opini / Tulisan Pendek Berjudul ‘WARISAN’ oleh Afi Nihaya Faradisa

Tulisan Pendek Berjudul ‘WARISAN’ oleh Afi Nihaya Faradisa

warisan

Ada sebuah artikel pendek berjudul ‘ WARISAN ‘ yang ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa, seorang siswi siswi SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur melalui akun facebooknya. Meski usianya yang masih muda, tulisannya ini sangat mudah dipahami maknanya dan semestinya membuka wawasan bagi semua orang akan arti pentingnya perbedaan dan saling  menghormati dan menghargai keberadaan sesama manusia dimuka bumi.

Afi menulis apa adanya, sebagaimana yang dia alami dan rasakan, terkait dengan hubungan antar manusia khususnya yang berbeda suku dan agamanya. Mungkin bagi sebagian orang yang merasa dirinya benar dan sebagai pemeluk agama satu-satunya yang paling benar dan yang lain adalah salah, tentu tak akan sependapat dengan apa yang ditulisnya itu.

Kalangan pemeluk agama radikal memang sama sekali tak bisa menerima bahwa semua agama itu sama, sebab satu-satunya kebenaran terhadap keyakinannya hanyalah terhadap agama yang dipeluknya. Agama yang lain salah, dan semua orang yang tidak seiman dianggapnya kafir.

Memang teramat sulit bagi mereka untuk menyelaraskan antara kebenaran logika dan keyakinan. Pemahaman terhadap suatu agama bagi setiap umat beragama adalah berbeda-beda. Tergantung darimana sumber keyakinannya itu, ulama mana yang dianutnya, dan seberapa dalam intensitasnya dalam admosfir keagamaan.

Seorang yang dilahirkan dari keluarga yang sangat taat beragama, seolah telah didoktrinasi oleh pemahaman tertentu yang menurut mereka paling benar. Wujud ketaatan beragama justru pada bagaimana meyakini agamanya sebagai agama yang paling benar dan agama dan umat lainnya adalah salah atau mengingkari kebenaran yang mereka yakini.

Kondisi pemahaman suatu agama yang sudah terlanjur keliru sejak lahir, maka akan membuat seseorang menjadi sangat apriori terhadap keyakinan agamanya sendiri dan dengan sadar mengingkari kebenaran atas logika dan akal sehat. Cara berpikir kaum radikal seolah telah terkunci dan tak pernah ada yang bisa mengubah atau membelokkannya.

Oleh sebab itu, jangankan dengan sebuah tulisan, meski degan ancaman moncong senjata di kepala merekapun, tak akan bisa membuat mereka berpaling terhadap kebenaran atas keyakinannya.

Itulah yang tengah terjadi di negeri ini. Sekelompok umat beragama yang punya keyakinan sangat keras dan cenderung tak mau disalahkan, terus menerus melancarkan propaganda dan tak pernah berhenti mencari tambahan pengikut dalam jamaah mereka. Mereka menilai apa yang tengah terjadi di negeri ini, yang mana penduduknya terdiri dari berbagai macam perbedaaa baik suku, agama dan rasnya adalah suatu kondisi yang tak bisa dibiarkan. Atas nama kebenaran  yang diyakininya sendiri itulah, mereka berupaya keras untuk mewujudkan kondisi sebagaimana yang mereka inginkan.

Feneomena ini harus segera dieliminasi, agar tak makin membesar dan masiv. Sebab jika dibiarkan dan tak diantisipasi dengan baik, maka akan dapat mengancam persatuan dan kesatuan,  juga sangat berpotensi terjadi disintegrasi bangsa.

Semoga Tuhan senantiasa melindungi negeri ini, dari keretakan dan kehancuran.

Berikut ini adalah tulisan dari Afi yang saya copy langsung dari akun Facebooknya :

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Facebook Comment..
Views 340 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *