Home / Peduli Negeri / Korupsi / Budaya Korupsi dalam ‘Cerita Katak Direbus’

Budaya Korupsi dalam ‘Cerita Katak Direbus’

1356803882971922843

OPINI | 30 December 2012 .
Pernahkah anda mendengar cerita tentang katak direbus (The Boiling Frog Story), yaitu sebuah eksperimen yang dilakukan terhadap seekor katak yang dimasukkan kedalam sebuah panci dan kemudian direbus. Percobaan itu menghasilkan fakta yang mengejutkan. Seekor katak yang di masukkan kedalam panci yang berisi air yang mendidih, langsung beraksi dengan melompat keluar.

Apa yang menarik dari cerita tersebut terkait dengan budaya korupsi ? Adakah korelasinya ?

Tentu eksperimen diatas dalam hal ini saya kaitkan semata mata sebagai sebuah analogi, dimana si Katak kita ibaratkan seseorang dan air yang berada dipanci tersebut adalah admosfir kegiatan korupsi yang berada disekitarnya. Sebagaimana yang terjadi terhadap si Katak dalam eksperimen tersebut, seseorang tentu saja  menolak bila begitu datang ditempat yang baru,  langsung diajak melakukan berbuat korupsi secara terang terangan, apalagi dia adalah seorang pegawai baru yang masih polos dan lugu.  Tapi apa yang terjadi selanjutnya terhadap orang tersebut, yang setiap harinya berkumpul dan bergaul dengan seniornya yang telah ‘akrab’ dengan budaya korupsi ?

Seiring berjalannya waktu, setelah beberapa minggu, bulan dan tahun kemudian, orang tersebut masih merasa nyaman meskipun sudah mulai merasakan nikmatnya menjadi bagian dari budaya korupsi yang dilakukan oleh para seniornya terutama ketika menerima cipratan uang dari hasil korupsinya.

Waktu begitu cepat berlalu,  belasan tahun kemudian orang tersebut sudah teramat berpengalaman dalam pekerjaannya  dan dipandang sangat layak untuk menggantikan seniornya yang masuk usia pensiun,  dan jadilah dia sebagai seorang pejabat teras didalam institusinya.

Pada tahap ini adalah setara dengan kondisi ketika Si Katak berada didalam air yang sedang mendidih. Apa yang dilakukan di katak yang tetap ditempat walaupun air sudah sedemikian mendidih adalah sama dengan apa yang dilakukan orang yang sudah berada pada puncak karirnya sebagai pejabat  yang punya otoritas mengelola penggunaan anggaran yang triliunan rupiah itu.

Barangkali karena memang si Katak punya kemampuan menyesuaikan diri untuk bertahan didalam air yang mendidih, demikian juga dengan si pejabat yang sudah terbisa dengan menikmati ‘indahnya’  budaya korupsi yang selama ini menyelimutinya sehingga merasa  biasa saja melakukan korupsi dengan kapasitas yang semakin lama semakin besar, tanpa mau peduli lagi pada resikonya.

Pada suatu saat dimana suhu air sudah  kian meninggi, si Katak baru mulai merasakan adanya  hawa panas yang menyerang tubuhnya dan tak bisa ditahan tahan lagi. Si Katakpun baru menyadarinya dan berusaha untuk melompat keluar dari panci. Tapi apa daya, seluruh tubuh si Katak sudah terlanjur kaku dan tak lagi bisa digerakkan. Demikian pula pada suatu kesempatan, kegiatan korupsi si pejabat yang sudah gila-gilaan itu, tercium oleh tim pemeriksa keuangan, dan seketika dilakukan audit   secara menyeluruh terhadap semua penggunaan anggaran proyek. Tentu saja si pejabat tak lagi bisa berbuat banyak, karena penyelewengan keuangan dalam pelaksanaan proyek, yang selama ini ditutup tutupi, semuanya terbongkar.

Pada akhir eksperimen tersebut,  si Katak pun akhirnya mati ditempat dalam keadaan kaku, bersamaan dengan itu, si pejabat  kemudian juga terbaring tak berdaya didalam sebuah kamar sempit yang dikelilingi jeruji besi.

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 238 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Dulu Aku Aktifis, Sekarang Aku Seorang Koruptor

FIKSI | 13 December 2011 | 08:34 Dulu ketika aku masih belajar di kampus, aku …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.