Home / Peduli Negeri / Korupsi / Dulu Aku Aktifis, Sekarang Aku Seorang Koruptor

Dulu Aku Aktifis, Sekarang Aku Seorang Koruptor

FIKSI | 13 December 2011 | 08:34
Dulu ketika aku masih belajar di kampus, aku ini seorang yang sangat idealis. Aku sangat alergi dengan polah tingkah pejabat yang suka melakukan kecurangan kecurangan dalam menjalankan tugasnya. Aku juga benci dengan cara mereka mencari uang  yang hanya menggunakan aji mumpung karena mempunyai jabatan, kedudukan dan kekuasaan.

Akupun dulu juga aktif di dalam kegiatan organisasi kampus, bahkan  pernah jadi calon ketua Senat Mahasiswa, dan nyaris terpilih. Kalo bukan gara gara ada seorang teman yang sakit hati padaku, lalu dia menyebar “Black campaign”  tentang aku, aku sudah jadi Ketua Senat.

Aku orangnya sangat keras pada pendirianku, dan tak ada kompromi dengan yang namanya kecurangan. Segudang acara kampus sudah aku pimpin, apalagi acara turun ke jalan, aku paling hobi.

Menentang korupsi dan menantang koruptor adalah kegiatan utamaku dulu. Aku rela berhari hari tak pulang, sampai ibuku mencari cariku, demi lancarnya semua kegiatan ‘jalanan’ ku itu.

Karena aku orang yang supel dan berprinsip, maka aku punya kharisma dan  begitu mudahnya  mempengaruhi teman teman kuliahku agar ikut bergabung pada acara acara demo yang aku buat.

Semua mahasiswa di kampus, tahu  siapa aku.

Sekarang, aku sudah jadi pejabat. Memimpin sebuah kantor pemerintah yang sangat bergengsi. Seperti dulu, pada awalnya aku juga muak dengan bawahanku yang ‘mau duit’ itu. Apa saja dibikin dan diolah agar bisa jadi duit.

Anak buahku selalu saja mengarahkanku agar mengikuti cara cara lama mereka untuk mendapatkan uang dengan menyalahgunakan jabatan dan memanfaatkan peraturan yang mereka buat sendiri.

Pernah suatu ketika ada yang mengirim sebuah mobil mewah edisi terbaru ke rumah, langsung atas nama istriku. Ternyata itu kerjaan kontraktor yang baru saja menang tender. Memang sih, aku tak pernah memintanya, tapi itu karena anak buahku yang mengatur segalanya.

Pertama, aku biarkan saja, meski aku tahu itu sudah termasuk ‘barang haram’ karena masuk dalam kategori Gratifikasi.  Kalo KPK tau, aku pasti sudah diborgol dan masuk bui.

Karena aku biarkan saja, nampaknya ini sudah seperti aku memberi  sign  lampu hijau buat anak buahku dan mereka mengambil kesimpulan bahwa aku telah merestui ‘pola’ kerja mereka.

Hari demi hari, aku semakin tenggelam dengan ‘atmosfir’ korupsi yang makin lama makin keruh.  Sampai pada akhirnya akupun semakin terbiasa ikut arus mereka dan lupa pada siapa diriku sebenarnya.

Aku mulai berani mengotak-atik anggaran, merancang pos pos pengeluaran fiktip. memanipulasi data laporan agar nampak dimata auditor, semuanya baik baik saja.

Padahal aku tahu, bahwa semua ini seharusnya tidak boleh aku lakukan. Tapi tetap saja aku jalankan dan aku atur sedemikian rupa dengan dibantu sepenuhnya oleh semua anak buahku yang patuh dan turut perintahku.

Ibaratnya aku ini seorang Raja, dan kantorku ini adalah istanaku. Semua apa yang aku minta, harus bisa diadakan dan dijalankan.

Bahkan dengan melanggar aturanpun, aku sudah mulai tak peduli, sebab aku sudah kalap untuk mencari uang sebanyak banyaknya.  Mumpung aku masih menjabat, kapan lagi ?

Dalam sekejab, harta ku sudah berlimpah ruah untuk membahagiakan istri dan anak anakku. Ku juga senang membantu sanak keluargaku yang sedang dilanda kesusahan dan kesulitan keuangan. Mereka taunya aku ini seorang dermawan, tapi mereka tidak  tahu kalau ini semua adalah hasil korupsi.

Istriku juga sudah tak seperti dulu yang suka mengeluh tak punya uang. Bayangkan saja, uang di rekening istriku sudah mencapai puluhan milyar rupiah, apalagi di rekeningku sendiri yang aku anggap sebagai uang ” kenakalan laki-laki” yang jumlahnya tentu jauh lebih besar.

Aku bisa berbuat apa saja, perempuan-perempuan banyak yang mendekatiku dan dengan  suka rela mau  jadi ’selir’ku. Terang saja karena aku orang yang kaya raya.

Aku simpan ‘istri’ dimana mana. Dengan alasan rapat kerja keluar kota aku pamit pada istriku, dan dia juga tak pernah curiga, yang penting aku sediakan apapun yang dia minta dan berapapun uang yang dibutuhkannya. Pendek kata, urusan rumah tangga sudah aku ‘beres’kan.

Itulah sedikit cerita tentangku. Aku sadar bahwa aku sedang menunggu waktu yang akan tiba, dimana semuanya ini akan menjadi malapetaka untuk ku dan keluarga besarku.

Tapi aku sudah terlanjur jadi seperti ini, mau gimana lagi ?

Maka dari  itu, aku juga turut prihatin dengan kabar ada seorang mahasiswa yang melakukan bakar diri untuk membela idealismenya.

Kasihan sekali mahasiswa itu…. dia belum tahu apa yang sesungguhnya dia lakukan.

Nyawanya terlalu berharga untuk membela sebuah idealisme ’semu’.

Seperti contohnya aku ini, ” dulu aku aktifis, sekarang aku seorang koruptor” bukan ?

Nah, kalau sudah begini, siapa yang musti disalahkan  ??

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 135 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Mencuci Otak Koruptor dengan Hipnotis

REP | 07 December 2012 | 10:32 Hipnotis (Hypnotist) selama ini yang kita kenal adalah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.