isi Halaman
Home / Peduli Negeri / Politik / Anda Butuh Prabowo, Jokowi, atau Presiden?

Anda Butuh Prabowo, Jokowi, atau Presiden?

jokowi prabowo
Tulisan ini sebagai refleksi terhadap cara pandang saya secara pribadi sehubungan dengan pemilu Presiden yang sebentar lagi akan berlangsung. Saya prihatin melihat kondisi perdebatan antara pendukung masing masing Capres, yang makin meruncing dan cenderung mengarah ke debat kusir, sama sekali tidak menyentuh substansinya dan tidak mencerminkan kedewasaan dalam berpikir. Masing masing kelompok sepertinya memakai kacamata kuda, membabi buta dan tak mau berpikir logis. Apa yang mereka sampaikan hanyalah mencari cari kesalahan dan kelemahan lawan, untuk menutupi kelemahannya sendiri. Mereka masing masing menganggap bahwa Capres yang didukungnya adalah yang paling layak sebagai presiden.

Bagi saya, tidaklah penting Prabowo, Jokowi atau siapapun yang akan jadi presiden, sebab yang kita harapkan adalah figur seorang presiden yang mampu memimpin negeri ini agar terbebas dari segudang permasalahan yang selama ini membelenggu. Menurut saya, kedua Capres baik Jokowi maupun Presiden sama sama punya kelemahan dan keunggulan.

Bila saya diminta untuk mengukur diantara keduanya mana yang lebih hebat, sayapun tak akan bisa melakukannya. Sebab begitu banyak alternatip cara pandang dan metode yang bisa digunakan untuk mengukur kapasitas seseorang, tergantung menggunakan pendekatan yang mana. Dengan kata lain, bila ada yang mengatakan bahwa Jokowi lebih hebat, atau Prabowo lebih kuat pastilah itu hanya berdasarkan penilaian yang bersifat subyektif semata. Menurut saya keduanya sama sama punya potensi dan probabilitas yang sama untuk meraih kemenangan di Pemilu mendatang.

Dalam masa kampanye seperti sekarang ini, acara debat antar capres yang diselenggarakan oleh KPU semata mata dilaksanakan untuk memberikan pendidikan politik kepada seluruh masyarakat khususnya yang mempunyai hak suara dalam pemilu mendatang. Oleh sebab itu jangan disalah artikan sebagai ajang pertarungan atau semacam pertandingan adu kuat, yang kemudian hasilnya dirumuskan dalam score kalah atau menang.

Namun masyarakat kita juga tak bisa disalahkan begitu saja sebab justru kedua Capres yang sedang berada dalam acara debat itu sendirilah yang banyak menyampaikan pernyataan yang ngawur dan sama sekali tidak akurat. Mereka berdua juga seakan akan ingin mengajak bertarung dan tampil lebih baik dibandingkan lawan mainnya, namun cara yang digunakan kadang tak cukup elegan. Mungkin juga karena banyak dipengaruhi oleh para penasehat dan tim sukses masing masing yang salah dalam memberi arahan dan tidak memberikan saran bagaimana agar bisa tampil sebagai Juara yang Sempurna.

Maksud saya begini, dalam sebuah kompetisi, seseorang bisa dikatakan sebagai pemenang tidak harus dengan membuat lawannya merasa kalah. Saya jadi teringat pesan orang Jawa jaman dulu ” “Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”

Maksudnya adalah kita kaya tapi tak punya harta. Jadi dalam hidup ini kita tidak semata mata  mengejar harta dan kekuasaan, sebab dengan makin banyaknya sahabat dan teman maka kita akan mejadi semakin kaya. Kita musti yakin dan optimis dengan kemampuan diri sendiri, tidak mengandalkan orang atau pihak lain hingga suatu saat tercipta kekuasaan karena citra dan kewibawaan sendiri. Segala yang diucapkan bisa dipercaya dan membuat orang lain segan dan menghormati. Kitapun juga harus harus bisa menyerang tanpa pasukan. Maksudnya adalah berani bertanggung jawab atas semua yang kita lakukan, meski kita sendirian tanpa ada yang menemani, tetap konsisten dalam menegakkan kebenaran dan membela martabat serta kehormatan. Akhirnya kemenangan yang kita dapatkan, tanpa harus membuat lawan kita merasa kalah, kecewa atau sakit hati. Inilah yang saya maksud dengan tampil sebagai Juara yang Sempurna.

Kembali kepada figur Capres Prabowo dan Jokowi. Keduanya bukan malaikat, namun juga bukan penjahat. Maksud saya keduanya adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan di masa lalu. Tak ada satupun gading yang tak retak bukan ?

Namun dalam konteks mencari calon Presiden, juga tidak bisa kita sembarangan dalam memilih orang. Baik Prabowo maupun Jokowi, tak kan mungkin bisa tampil sebagai Capres, bila tak memiliki potensi dan kapasitas untuk menjadi orang no. 1 di negeri ini. Mekanisme yang telah berjalan selama ini, secara alami akan memunculkan figur Calon Presiden yang layak untuk dipilih.

Mengungkit-ungkit masa lalu, membuka aib seseorang, mencari cari kesalahan dan kelemahan lawan hanyalah bukti keterbelakangan seseorang dalam berpikir dan bersikap, serta jauh dari kedewasaan perilaku dan kecerdasan emosional.

Kesimpulan saya adalah bahwa mementum pesta demokrasi kita sekarang ini diharapkan bisa melahirkan seorang Presiden yang benar benar akan didukung dan dicintai oleh rakyat, sebab akan mengantarkan bangsa ini mencapai menuju pintu gerbang cita-cita bersama yaitu masyarakat yang adil dan makmur.

Apalah gunanya berdebat dan saling menghujat hanya untuk membela kepentingan politik dan golongan sendiri yang berlaku sesaat. Sedangkan yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita ciptakan sebuah kondisi kerukunan dan kesatuan bangsa yang berdaulat.

Saya bukanlah anggota “Partai Golput” dan yang pasti  pada hari H saya akan datang ke TPS.  Bila  Capres Prabowo bernomor urut 1 dan  Jokowi nomor urut 2, maka  saya akan mencoblos “Presiden” dengan nomor urut  3

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 47 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

ParPol Minta Mahar?

Partai Politik yang meminta mahar atau uang untuk dana kampanye dll seperti yang diungkap oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.