Home / Peduli Negeri / Politik / Tiada “Kacang” Tanpa “Lanjaran”

Tiada “Kacang” Tanpa “Lanjaran”

kacang

Anda pernah tahu, bagaimana cara menanam kacang panjang? Kacang panjang, ketika sudah mulai berbuah, perlu semacam penopang agar buahnya tumbuh dengan baik dan panjang. Oleh sebab itu, kita buatkan semacam rangka, untuk menopangnya atau yang biasa dibilang “lanjaran”. Bila tidak, maka buah kacang akan mudah membusuk bila dibiarkan tergeletak di tanah.

Itu hanyalah sebuah ilustrasi saja, bukan karena kita sedang belajar berkebun menanam kacang, tapi mari sejenak kita mengkaji filosofi kacang panjang. Bagi orang Jawa, sudah tak asing lagi dengan pepatah “Kacang ora ninggal lanjaran” artinya “Kacang tidak meninggalkan lanjaran”. Bisa busuk kau nanti, kata mereka sih..

Kacang panjang yang segar, hijau dan butiran kacangnya besar-besar, saat dipajang oleh pedagang sayur atau di display di rak lemari pendingin di supermarket, adalah hasil kerja luar biasa dari para petani kita. Bagaimana tidak, mereka dengan tekun merawat pertumbuhan kacang-kacang tersebut hingga tiba saat panen tiba. Para petani tentu bisa tersenyum puas ketika melihat hasil panen kacangnya melimpah ruah dalam kondisi sangat baik dan sangat mudah di jual di pasar, meski harganya lebih mahal sekalipun.

Pada satu sisi, saya ingin mengambil analogi dari kisah kacang diatas. Kacang panjang ibarat seseorang yang sedang meniti karir. Dia tak akan pernah mampu meraih puncak karirnya bila tanpa bantuan orang lain atau institusi tertentu. Benar atau tidak? Bila benar, mari kita lanjutkan.

Dalam meniti ke puncak karir, seseorang perlu ‘dikondisikan’ maksudnya diperlakukan dan diupayakan secara maksimal agar tercapai apa yang diharapkan. Siapa yang mengkondisikan? Tentu orang lain, meski tak lepas dari usahanya sendiri. Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, peran orang lain itulah yang patut dihargai atau diapresasi. Bagaimana bentuk apresiasinya? Tentu hal ini sangatlah bervariasi sesuai kasus dan negosiasinya. Bahkan pada kasus tertentu, seseorang akan sangat tunduk dan patuh kepada orang atau pihak yang mengkondisikannya tersebut.

Begitupula dipanggung politik. Seorang pejabat publik yang berhasil menduduki jabatan tertentu yang berasal dari partai politik, tentu saja ybs. tidak bisa serta merta duduk dan menjabat tanpa peran partainya. Bahkan faktanya adalah bahwa mereka adalah orang-orang utusan partainya. Meski sebelumnya mereka disumpah untuk bekerja demi kepentingan rakyat, namun tetap saja mereka adalah ‘orang-orang partai’ yang mengemban misi partainya sendiri. Hal ini sangatlah logis dan bukan hal yang aneh pula.

Jadi, bila ada seorang politisi yang sukses menjadi pejabat, maka sudah selayaknya sebagai seorang manusia yang punya hati, untuk selalu mengingat jasa dan pengorbanan para pihak yang mengusungnya, hingga sampai pada kursi tertinggi. Bukan berarti mengikuti falsafah “Kerbau yang di cocok hidungnya”, tapi sebatas meneladani filosofi “Kacang” yang tidak pernah mau meninggalkan “lanjaran”nya. Tanpa lanjaran, maka kacang sudah dapat dipastikan akan membusuk sebelum masa panen tiba.

Sampai disini mengingatkan kita semua akan pernyataan Megawati Soekarnoputri, ketua partai besar yang berhasil menyokong kadernya menuju puncak jabatan tertinggi di negeri ini. Megawati dengan tegas mengatakan bahwa semua kader partai yang menduduki jabatan di pemerintahan adalah “petugas partai”. Bahkan dia sendiripun juga menyebut dirinya sendiri adalah “Petugas Partai”, maksudnya orang yang ditugaskan oleh partai. Sangat wajar dan logis pernyataan itu. Bagi yang tidak mau disebut ‘Petugas Partai” keluar saja!. Itu pernyataan tegasnya. Hal ini sebagai tanggapan atas berita atau kabar burung yang manyatakan bahwa ada kader partai yang tak mau disebut “petugas partai”.

Tapi apa yang tersembunyi dibalik pernyataannya yang tegas tersebut, tidak semua orang tahu dan memahami. Tergantung pada persepsi masing-masing pula.

Lalu apa korelasinya dengan filosofi kacang panjang?

Bila seorang yang tidak mau lagi mengakui dari mana dia berasal, siapa saja yang membuatnya berhasil dan tidak lagi mau tunduk dan patuh pada perintah atasan atau garis partai, maka pada saat yang sama, dia bagaikan kacang yang telah lupa pada lanjarannya. Kemudian apa yang mungkin saja terjadi?

Hanya ada dua kemungkinan, yaitu dia akan diusir dari komunitas yang pernah membesarkannya dan tak akan pernah dibicarakan lagi atau setidaknya dia akan dibiarkan tumbuh dan berjalan sendiri, tanpa perhatian dan dukungan apapun dari komunitasnya.

Kalau sudah begini bagaimana? Itu adalah resiko seorang yang ‘durhaka’ pada komitmen. Bolehlah dia merasa sudah besar, kuat, berkuasa dan punya kekuasaan sehingga tak perlu lagi orang-orang yang dulu merawat dan membesarkannya. Bila tak ingin disebut orang yang tak punya hati, maka jangan pernah lakukan itu, sebab sejarah yang telah tertulis, tak kan mungkin dihapus begitu saja.

Ada satu lagi yang juga penting untuk dicatat, bahwa apa yang terjadi didunia ini, berlaku hukum alam dan hukum sebab akibat. Barang siapa yang berbuat, dia akan menerima kembali dampak dari perbuatannya itu. Berbuat baik kepada orang lain, akan menerima kebaikan dari orang lain, begitu pula sebaliknya.

Mungkin esok, lusa atau entah kapan, tinggal menunggu waktu yang bicara…

Salam

@donibastian – opini

gambar : ulbahrihussin.blogspot.com

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 450 x, today 3 x

Baca Juga Yang Ini

ParPol Minta Mahar?

Partai Politik yang meminta mahar atau uang untuk dana kampanye dll seperti yang diungkap oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.