Home / Pemilu / Masih Adakah yang Layak Menjadi Presiden?

Masih Adakah yang Layak Menjadi Presiden?

OPINI | 27 January 2013 | 02:18 Rasanya mudah saja mencari calon presiden, tapi untuk mendapatkan Presiden terpilih yang benar benar pantas menjabat sebagai kepala pemerintahan, ternyata  tidaklah semudah ketika mencari calon. Banyak orang yang merasa bahwa dirinya punya kemampuan, kompetensi dan dukungan pihak lain untuk mecalonkan dirinya atau dicalonkan sebagai presiden. Tapi persoalannya adalah siapa yang layak terpilih nanti ?

Tidak mudah mempertahankan prinsip ketika seseorang telah berkuasa sebagai kepala negara. Sangatlah jauh berbeda kondisinya bila dibandingkan semasa menjadi calon presiden. Apa yang dilakukan oleh calon presiden semasa kampanye, tentu dengan tujuan sekedar untuk menarik simpati dari semua orang agar bersedia memilihnya pada pemilu nanti. Bersembunyi dibalik janji-janji manis yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, seorang calon presiden tampil dengan penuh percaya diri, menanamkan citra  sebagai orang yang dapat dipercaya sekaligus  tumpuan harapan rakyat banyak.

Dalam perjalanannya menuju puncak kepemimpinan negara, tentu akan diwarnai dengan berbagai kepentingan, terutama dari pihak pihak yang memberinya dukungan, terutama yang terkait dengan  masalah finansial. Dalam masa masa ini, benyak dimanfaatkan sebagai semacam ajang adu untung,  juga mencari kesempatan agar dapat dianggap yang paling berjasa terhadap keberhasilan seorang calon menjadi  Presiden.

Pada mulanya semua nampak biasa saja, sebagai bentuk simpati dan dukungan, apapun disumbangkan, berapapun digelontorkan dan berharap impian menjadi kenyataan.

Karena dilanda ketidakpastian, dan tak ada satupun yang berani memberikan jaminan, maka segala bentuk sokongan baik yang berupa dukungan baik moral maupun material mengalir begitu saja. Semuanya digunakan secara penuh demi keberhasilan sebuah misi yaitu untuk menjadikannya sebagai seorang Presiden terpilih.

Namun apa yang kemudian terjadi. nampaknya tidak sepenuhnya seperti yang diharapkan oleh rakyat pendukungnya. Tampil sebagai seorang Presiden, ternyata menimbulkan beban yang luar biasa berat, diluar tugas utamanya memimpin sebuah negara. Beban itu bahkan dirasakan  sebagai hutang yang harus segera dibayar setelah selesainya pelantikan didepan anggota dewan.  Hutang itu  menjadi samar, antara hutang budi dan hutang materi. Hal ini akan menjadi semakin membebani ketika berkoalisi dengan banyak partai pendukung, yang mana masing masing telah punya komitmen dan kontrak politik yang musti harus dapat direalisasikan.

Disinilah seorang Presiden mulai diuji, sejauh mana dia bisa membayar lunas semua ‘hutang hutangnya’ itu dengan cara yang tidak mengorbankan kepentingan rakyat. Berbagai cara dilakukan dan tentu tidak akan pernah dikembalikan dalam bentuk uang tunai, sebab sedari awal memang tak pernah ada perjanjian tertulis mengenai hutang piutang.

Sebagai seorang gentlemen yang  punya rasa dan itikad sebagai seorang yang tau diri karena telah dibantu dan disupport dalam misi pemenangannya, mau tidak mau, suka tidak suka, akan berusaha untuk memberikan kompensasi kepada semua pihak yang mendukungnya.

Berbagai bentuk kompensasi mulai dari minta jatah kursi dan posisi sebagai menteri atau pejabat strategis lainnya, sampai minta bagian proyek yang nilainya sampai milyar bahkan triliunan rupiah. Ini sebenarnya hanyalah sekedar media perantara saja untuk memperoleh kembali uang yang ditanamkan ketika dalam masa kampanye calon Presiden,  sebab segala sesuatu yang berjalan sekarang ini, semuanya telah dikendalikan yang ujung ujungnya adalah  uang.

Dengan memperoleh posisi sebagai seorang menteri atau pejabat negara yang punya kekuasaan dan wewenang mengatur jalannya roda pemerintahan, maka secara praktis akan terbuka luas kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang mungkin jauh melebihi dari apa yang telah dikeluarkannya dulu. Atau dengan memperoleh pekerjaan dalam sebuah mega proyek, tentulah akan semakin mudah memperoleh rupiah secara langsung. Belum lagi yang memanfaatkan berbagai kebijakan yang sesungguhnya dibuat berdasarkan pesanan.

Dalam kondisi ini, Presiden dalam masa pemerintahannya akan selalu dibayang bayangi berbagai tuntutan dari pihak pihak yang merasa berjasa itu. Dan disisi lain, Presiden juga harus tampil sebagai figur yang membela rakyat, tidak mengingkari janji dalam kampanye  dan harus melakukan perubahan perubahan yang significan ke arah perbaikan disegala sektor.

Sayangnya, karena pekatnya admosfir tuntutan dari berbagai arah dan kepentingan itu, membuat pandangan Presiden menjadi kabur dan mengesampingkan tujuan utamanya dalam memimpin negara. Belum lagi bila ada yang mengkhianatinya dengan berbuat KKN secara sistemik yang berujung kepada persepsi publik yang menilainya  gagal dalam mewujudkan janji janji dalam  kampanyenya dulu.

Terkait dengan hal ini, masih adakah seorang Presiden yang berani mempertahankan prinsip dalam mengemban amanah rakyat ? Berani berkata tidak, kepada orang orang atau pihak yang dulu mendukungnya pada masa kampanye ?.

Berani menolak permintaan dari sebagian pihak yang hanya menguntungkan diri sendiri dan sebagian golongan saja ?. Berani membenahi sistem yang sudah bobrok, dan tampil sebagai panglima untuk berperang melawan  praktik praktik korupsi serta konsisten dalam misi perjuangan demi  membela kepentingan masyarakat luas dinegeri ini ?.

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 57 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.