Home / Pendidikan / Quo Vadis Ujian Nasional?

Quo Vadis Ujian Nasional?

Masalah tertundanya pelaksanaan Ujian Nasional di 11 provinsi mencuat sebagai head line diberbagai media pemberitaan tanah air.   Bila sudah demikian, tak ada satu pihakpun yang mau dipersalahkan. Budaya saling tunjuk siapa yang bersalah sudah nyata nyata terjadi sebagai bukti makin buruknya pengelolaan program pendidikan di negeri ini. Bahkan penanggungjawab tertinggi didalam pelaksanaan mutu pendidikan pun turut menghindar dari tuduhan sebagai pihak yang paling bertanggungjawab, dan tuntutan untuk mundur dari jabatannya pun juga seolah dianggap tak penting lagi.Kegagalan pelaksanaan Ujian Nasional secara serentak tahun ini adalah peristiwa yang pertama kali terjadi sejak tahun 2004 dimana  Ujian Nasional telah diwajibkan untuk diikuti oleh seluruh siswa pendidikan di Indonesia sebagai bagian terpenting dalam menentukan kelulusan siswa sekolah. Disisi lain, masalah ini justru makin menambah persoalan baru ditengah tengah panasnya perdebatan dan pendapat pro-kontra terkait pelaksanaan kurikulum 2013 yang hingga saat ini masih belum jelas dimana titik temunya.Ujian Nasional sesuai yang diamanatkan oleh Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  sedianya digunakan untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan, namun dalam pelaksanaannya banyak sekali menimbulkan ekses negatip khususnya terhadap para siswa dan staf pendidik, antara lain menimbulkan perasaan was was  pada diri seluruh peserta ujian, dan ketakutan akan gagal dalam mengikuti Ujian Nasional tersebut.  Kondisi semacam ini dinilai oleh sebagian kalangan sebagai suatu bentuk pelanggaran Hak Azasi Manusia, dan mengancam perkembangan psikologis anak didik.Menyelenggarakan suatu ujian dengan materi yang distandarkan, boleh boleh saja dilaksanakan untuk menilai sejauh mana  para siswa mencapai mutu pendidikan tertentu yang diharapkan, namun yang jauh lebih dahulu dipersiapkan dan ditata adalah mutu fasilitas pendidikan dan tenaga pengajarnya. Seberapa jauh pemerintah sudah melaksanakan standar mutu fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar di seluruh sekolah di Indonesia ?  Dengan  adanya perbedaan kondisi dan infrastruktur di masing masing daerah, tentu saja hal ini akan menjadi kendala terhadap terpenuhinya mutu fasilitas dan tenaga pengajar di masing masing sekolah di daerah daerah. Perintah sederhananya adalah standardkan dulu mutu sekolah dan staf pengajarnya, setelah itu baru distandarkan materi ujiannya.Penyelenggaraan Ujian Nasional juga belum memperlihatkan korelasinya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan mutu pendidikan di Indonesia. Apakah dengan diwajibkannya seluruh siswa untuk mengikuti Ujian Nasional dengan demikian berarti bahwa hal ini akan menimbulkan motivasi bagi para siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya ?

Belum tentu juga. Ada baiknya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan melaksanakan semacam evaluasi  atau kajian terhadap dampak pelaksanaan Ujian Nasional tersebut. Jangan sampai terjadi seperti hasil studi  yang telah dilaksanakan Sharon L. Nicols, Gene V. Glass, dan David C. Berliner terhadap data tes NAEP (the National Assessment of Educational Progress) di 25 negara bagian di Amerika Serikat pada tahun 2006 lalu, yang mana disana justru tidak ditemukan bukti yang kuat bahwa tekanan untuk mengikuti ujian dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa  dan sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.  Dengan demikian bisa berarti bahwa  ujian nasional bukanlah faktor utama  yang secara signifikan mampu mendorong siswa untuk berprestasi.

Penyelenggaraan Ujian Nasional sekarang ini seakan akan telah bergeser fungsinya menjadi sebuah ajang perjuangan hidup mati bagi para siswa dan menjadi satu satunya cara bagi sekolah untuk mempertahankan atau meningkatkan reputasinya.  Seolah olah tingkat prosentase kelulusan siswa menjadi harga mati untuk menjaga nama baik sekolah dan sebagai target untuk meningkatkan nama baik sekolah yang bersangkutan sehingga seringkali mengabaikan proses belajar mengajar untuk meraih prestasi, yang seharusnya lebih diutamakan.  Hal ini menimbulkan efek negatif yaitu dengan munculnya berbagai macam upaya kecurangan baik dikalangan siswa maupun staf pendidik dan menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai Ujian Nasional dan tingkat kelulusan sekolah yang setinggi tingginya.

Masyarakat terlanjur memiliki persepsi  bahwa semakin tinggi tingkat kelulusan siswa di sebuah sekolah maka dianggap semakin baik mutu  sekolah tersebut.  Persepsi semacam ini timbul sesungguhnya akibat pemerintah sendiri yang secara tidak langsung menanamkan cara pandang itu ke dalam benak masyarakat.

Dunia pendidikan sekarang ini seakan telah dikondisikan sebagai sebuah mekanisme untuk mencapai tujuan jangka pendek semata. Bukankah seharusnya pendidikan diperuntukkan bagi terwujudnya cita-cita ideal, yaitu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh dan seimbang secara intelektual, emosional, dan sosial, sebagaimana diamanatkan undang-undang, dan bukan semata-mata demi nilai Ujian Nasional ?

Semoga menjadi pemikiran kita bersama…

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 32 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.