Home / Politik / Kebiasaan Mencatut Nama dalam Bernegosiasi

Kebiasaan Mencatut Nama dalam Bernegosiasi

Kancah politik tanah air kembali memanas terkait peristiwa pencatutan nama pejabat negara yang dilakukan oleh Ketua DPR Setya Novanto. Melalui rekaman pembicaraan di dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para petinggi Freeport Indonesia itu, Setya Novanto ditengarai telah melanggar Kode Etik Anggota Dewan. Menurut pengamatan saya, terdapat 2 (dua) hal pelanggaran prinsip yang dilakukan oleh Novanto, yang menjadi polemik di tengah masyarakat kita yaitu  pertama adalah Setya Novanto sebagai anggota Legislatif seharusnya  tidak perlu terlibat atau mencampuri urusan eksekutif. Sebab perihal perpanjangan kontrak Freeport di Papua yang diperbincangkan mereka itu adalah berada  dalam wilayah tugas dari Kementerian ESDM.

Yang kedua adalah adanya sebagian pembicaraan  yang mengatasnamakan kepentingan orang lain, apalagi menyebut nama para pejabat, atau yang lazim di sebut mencatut  nama orang. Mengenai berhak tidaknya seorang ketua DPR bertemu dan membicarakan persoalan perpanjangan kontrak Freeport tersebut, saat ini telah menjadi perdebatan seru berbagai kalangan dan di berbagai media termasuk media sosal. Pendapat pro kontra silih berganti mewarnai setiap halaman muka pada semua media cetak dan elektronik yang ada.

Melalui artikel ini, saya tidak tertarik untuk membahas tentang berhak atau tidaknya Setya Novanto melakukan pertemuan informal dengan para petinggi Freeport itu, sebab sesungguhnya yang terpenting adalah apa yang dibicarakan oleh mereka. Bila saya boleh mengambil asumsi, bahwa Setya Novanto dengan pertimbangan tertentu juga berhak bertemu oleh siapapun juga apalagi untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut kepetingan umum, maka kiranya apa yang dilakukan oleh Setya Novanto tersebut adalah hal yang wajar saja. Anda tentu bertanya, mangapa saya menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Setya Novanti tersebut adalah wajar-wajar saja atau bahkan itu adalah hal yang biasa saja terjadi dalam proses negosiasi, sebab saya menggunakan pendekatan praktis bukan idealis.

Maksud saya begini, kebenaran yang ada di atas bumi ini sangatlah relatif. Pada satu sisi, sebagian pihak menyatakan itu salah, tapi ada pihak lainnya berpendapat bahwa dalam satu kondisi, hal itu benar dan memang harus begitu pelaksanaannya. Mengenai persoalan tuduhan pencatutan nama para pejabat yang dilakukan oleh Setya Novanto juga termasuk pada wilayah kebenaran yang relatif itu. Bila dipandang dari sisi etika dan hukum, tentu akan semakin jelas bahwa memang Novanto dalam hal ini jelas bersalah. Tapi saya ingin mengajak anda untuk berisikap netral dan bisa memaklumi sebuah kondisi yang terjadi. Bila saja saat pertemuan tersebut Setya Novanto mengetahui, bila pembicaraannya sedang direkam, tentu dia tak akan mau membicarakan hal-hal yang mengangkut nama para pejabat lainnya, bukan? Setya Novanto bukanlah makhluk bodoh. Inilah yang saya namakan ‘sandiwara politik’.

Semua politikus itu sesungguhnya sedang bersandiwara. Mereka bisa megambil peran tertentu dengan memakai topeng yang berbeda-beda. Tergantung apa tujuannya, dengan siapa bicara dan dimana. Bila seorang politikus bicara didepan media, apa yang dibicarakannya itu tentu barang yang indah-indah saja, yang menyejukkan semua pihak dan seolah mereka adalah pemilik moral yang baik. Atau bisa juga mereka mati-matian membela suatu pihak, tanpa peduli bahwa publik telah merasa benci  atas semua pernyataannya. Para politikus juga tak peduli dengan pihak manapun, termasuk rakyat yang secara ideal seharusnya  mereka perjuangkan. Mereka hanya membela kepentingan golongannya, termasuk kepentingannya sendiri. Kembali pada kasus Setya Novanto, sebagai seorang politikus, Novanto tentu sangat piawai dalam bernegosiasi. Dalam meja negosiasi, sudah sangat biasa menyebut-nyebut atau mencatut-catut nama atau institusi lain. Tujuannya hanya satu, yaitu meyakinkan lawan negosiasinya.  Keberhasilan seorang negosiator diukur dari hasil yang didapatkan sesuai yang diinginkan dengan caranya sendiri.

Oleh sebab itu, etika diabaikan. Bahkan kadangkala masalah hukum disederhanakan atau bahkan dilecehkan.   Sekali lagi, saya bukan berarti ingin membutakan diri pada norma dan moral yang ada, tapi disini saya menulis tentang apa yang saya ketahui dan saya alami sendiri. Begini ceritanya. Pada suatu ketika, saya pernah mengundang dan mengadakan pertemuan dengan seorang anggota DPRD di kota X, pada sebuah restoran mewah disana. Bahkan sayapun juga menghadirkan pula pejabat dan pada SKPD terkait.

Coba anda bayangkan, meski saya ini bukan siapa-siapa, tapi pada satu saat sayapun bisa saja mendatangkan pejabat legislatif dan eksekutif yang bertemu dalam satu meja dan membicarakan sebuah bisnis. Apakah saya sedang membuat suatu konspirasi? Saya katakana Ya! Saya tidak mau berbohong pada diri sendiri, sebab memang kenyataannya kami semua ketika itu sedang merancang sebuah konspirasi  tapi dalam urusan bisnis pengadaan barang dan jasa pemerintah yang nilainya hanya beberapa puluh Miliar saja. Nilai yang teramat kecil bila dibandingkan dengan proyek PTFI, tapi lumayan juga untuk proyek di daerah.

Apakah anda ingin tahu, apa yang dikatakan oleh anggota dewan daerah itu kepada kami? Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Setya Novanto. Dia juga menyebut-nyebut nama walikota dan pejabat daerah lainnya, yang katanya teman dekat, sering bermain golf, makan bersama dll. Juga kemudian setelah pertemuan itu dia akan langsung bertemu di rumah pak wali tersebut. Diapun juga ingin berperan dalam pembagian jatah, dan berjanji akan mengatur semuanya dengan teman-temannya dalam satu komisi, agar proyek bisa kami menangkan. Itulah yang terjadi di lapangan.

Bila anda adalah sama-sama pemain bola dengan saya, tentu saya tak perlu lagi mengajari anda cara menendang bola agar masuk ke gawang bukan? Sayapun tak perlu bercerita lagi bagaimana caranya menjatuhkan lawan bila sedang menggiring bola. Sebab sekali lagi saya katakana bahwa kita adalah sama-sama pemain. Tapi persoalannya adalah, di negeri ini tidak semuanya pemain bola. Jadi wajarlah bila ada yang tak mengerti apa yang sedang kami lakukan. Mereka hanya bisa menghujat para pemain, karena dianggap bodoh, tak punya etika dan tak layak jadi pemain bola. Tapi bagi yang bisa memahami, mereka hanya tersenyum saja kala melihat berbagai tingkah para pemain bola.  Bila terjadi ada temannya yang pemain bola dihujat oleh para penonton, mereka hanya bilang,”Dia lagi sial aja..”.

@DoniBastian

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 99 x, today 1 x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.