Home / Uncategorized / Sahita, Mengingkari Budaya Sendiri

Sahita, Mengingkari Budaya Sendiri

OPINI | 03 October 2012 | 12:41 Ada 4 orang wanita Jawa yang bergabung dalam kelompok  yang bernama “Sahita”.  Usia mereka sudah tidak lagi muda, bahkan bisa dibilang sudah tua. Keempat wanita itu bisa saya pastikan, bahwa mereka adalah para seniwati Jawa, yang sangat piawai dalam menari dan menyanyikan tembang tembang  Jawa.

Juga saya sangat yakin bahwa mereka bukanlah  baru seminggu atau sebulan lalu mendalami kesenian tradisional Jawa, tapi mungkin telah betahun-tahun mereka bergelut dibidang seni tari bahkan sejak anak anak, mereka sudah terbiasa berada dalam lingkungan budaya Jawa.

Ketika saya melihat penampilan mereka dalam sebuah acara di televisi, saya melihat  suatu ‘pemandangan’ yang sangat aneh yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Mungkin karena saya juga terlahir dari suku Jawa Asli, dan sejak kecil, memang saya berada dalam lingkungan keluarga dan orang orang Jawa, sehingga sangat sulit bisa menerimanya.

Saya hanya bisa terdiam dan menggeleng gelengkan kepala,  bagaimana itu bisa mereka lakukan ?

4 perempuan perempuan tua itu memakai pakaian khas Jawa, seharusnya dengan memakai pakaian khas Jawa, sekaligus tingkah lakunya juga harus mencerminkan orang Jawa (piantun Jawi) . Tapi mereka malah bergaya seperti ABG, menari dan menyanyi semau maunya, selantang lantangnya dan segirang girangnya yang penting bisa membuat penonton senang.  Saya melihat penonton yang berada distudio juga tertawa-tawa dan menganggap lucu, mungkin karena mereka tidak mengerti/memahami.

Saya kemudian berpikir, kenapa orang orang tsb bisa tertawa sedangkan saya tidak ? Mengapa para penonton itu bisa senang sedangkan saya malah merasa prihatin  ?

Ada beberapa hal yang menurut saya menjadi  penting yaitu

1. Usia sudah diatas 40 tahun.

Usia 40 tahun untuk wanita, apalagi ibu ibu, itu sudah merupakan usia matang, dimana bila mereka mempunyai anak mungkin anak mereka sudah mulai masuk masa remaja. Polah tingkah ke 4 wanita itu seharusnya hanya pantas dilakukan oleh anak anak mereka yang masih ABG.

“Coba ngaca dong ibu ibu ?  Apa nggak malu ditonton anak anaknya ?”

Sudah bukan masanya lagi bagi mereka bergaya seperti itu.

2. Melanggar adat  dan norma kesopanan.

Bila mereka mengaku wanita Jawa, tentu tidak berbuat semacam itu. Wanita Jawa dikenal sebagai wanita yang halus perangai dan budi bahasanya. Apalagi wanita wanita ‘priyayi’ (putri putri  Raja) mana ada yang bertingkah semacam itu ? Saya saja yang melihat penampilan mereka, malah malu sendiri. Apakah tali kemaluan mereka sudah putus ?

3. Melanggar pakem dan tradisi kesenian Jawa.

Gerakan gerakan mereka dalam menari jelaslah bila itu menunjukkan bahwa mereka adalah para penari Jawa (pinter njoget /bhs jawa), dan saya yakin mereka benar benar menguasai seluk beluk tarian jawa. Tapi dalam beberapa kesempatan, mereka pun dengan sengaja membuat gerakan gerakan yang ‘nyeleneh’ dan maksudnya agar membuat orang tertawa karena dianggap lucu.

Tapi Bagi saya, itu bukanlah hal yang lucu, dan bahkan saya anggap mereka telah berani melecehkan kesenian tari Jawa yang telah ada pakem (aturan) nya.

Jaman dulu, seorang penari  yang tanpa sengaja melakukan kesalahan dalam gerakan menari, itu malunya luar biasa. Eh, sekarang sudah tua tua begitu, malah dengan sengaja ‘merusak’ sendiri pakem yang telah digunakan secara turun temurun dalam ada budaya jawa.

Apakah sekarang ini norma kesopanan dalam adat istiadat Jawa sudah mulai bergeser ?

4. Apa yang mereka cari ?

Ketenaran ? Popularitas ? Seharusnya sudah bukan masanya lagi, mengingat usia  mereka sudah terlalu tua.

Demi uang atau kekayaan ? Apakah mencari uang harus dengan cara mengorbankan martabat dan nilai nilai kesopanan ? Boleh saja mencari uang, tapi jangan bikin malu orang orang Jawa dong ?

Bila memang uang yang dicari, dengan berbekal kemampuan dan kreatifitas, mereka seharusnya bisa membina anak anak mereka atau remaja remaja Jawa untuk melakukan apa yang meraka lakukan dalam Sahita bukan ?

Apakah bila kita merasa bisa, lalu dengan serta merta kita melakukannya tanpa memperimbangkan hal hal lainnya ?  Analoginya adalah bahwa kita semua bisa dan tahu caranya mencuri, tapi apakah kita akan melakukannya ?

oo alaah bu.. bu.. wis wis rasah diteruske..rasah gawe isin…

(sudah jangan diteruskan, jangan bikin malu)

Ingat, usia kita sudah senja, tidak perlu ‘ngoyo’ dalam menjalani ‘akhir’ kehidupan ini..

Salam

Hosting Unlimited Indonesia

Facebook Comment..
Views 45 x, today 1 x

Baca Juga Yang Ini

Legowo

Kalau saya melihat, Prabowo sekarang ini sedang terkena sanksi sosial. Biarpun Pilpres sudah selesai, bukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.