Artikel Terbaru

Tabrakan Maut di Pasar Gaplok, Sejauh Mana PT KAI Bertanggung-jawab?

Kemarin lusa, Selasa 13 Juni 2017 menjelang saat berbuka puasa, telah terjadi kecelakaan antara mobil box dengan kereta api Walahar Express jurusan Jakarta-Purwakarta. Mobil naas tersebut bergerak dari arah jl. Tanah Tinggi Johar Baru menuju ke Jl. Kembang Pacar, namun pengemudi mobil tersebut tidak mau bersabar menunggu dan berbuat nekad dengan menerobos palang pintu kereta yang sudah tertutup.

Padahal situasi di sekitar lokasi kejadian sudah terjadi antrian kendaraan yang cukup padat dari kedua arah, terutama para pengemudi sepeda motor yang juga tidak mau bersabar, bahkan saling berusaha mendahului hingga membuat lalu lintas semakin ‘crowded’. Sebelumnya warga sudah mengingatkan kepada pengemudi mobil box tersebut agar segera mundur sebab rangkaian kereta sudah semakin mendekat. Namun pengemudi mobil seperti tak mau menghiraukannya.

Mobil tersebut kemudian berhenti diatas rel kereta dan terjebak pada posisi ‘dead lock’, maju tak bisa, mundur pun juga tak mungkin sebab sudah terhalang oleh banyak kendaraan lainnya. Di dalam mobil, si pengemudi dan seorang penumpang disebelahnya sesaat tampak panik dan berupaya keluar dari dalam mobil untuk menyelamatkan diri. Meski keduanya sudah berusaha keras, namun pintu mobil tetap tak bisa terbuka karena terhalang oleh kendaraan disekitarnya.

Apa yang terjadi kemudian sungguh memilukan. Kedua orang yang berada di dalam mobil tersebut tak sempat menghindar dari sambaran Kereta yang malaju kencang. Tabrakan maut pun tak bisa terhindarkan lagi. Terdengar bunyi benturan yang sangat keras, ketika Lokomotif menghantam bagian belakang mobil. Mobil itupun terseret hingga sejauh 30 meter dan kemudian terbakar, sekaligus menewaskan kedua orang yang berada didalamnya.

Saya kebetulan adalah warga sekitar yang setiap hari melintas di lokasi kejadian tersebut. Mendengar berita ini, hati terasa pilu. Sesak terasa di dada karena tabrakan maut ini telah memakan dua korban jiwa sekaligus. Sungguh kejadian ini sangat saya khawatirkan dan telah terbayangkan sejak puluhan tahun yang lalu, hingga akhirnya benar-benar terjadi pada kemaren lusa.

Mengapa kejadian ini begitu saya khawatirkan? Sebab meski sudah terpasang palang pintu dan ada pos petugas penjaga lintasan KA, namun memang situasi di Pasar Gaplok sangat rawan terjadi kecelakan, apalagi jika terjadi antrian kendaraan yang panjang dan berlangsung dalam waktu hingga lebih setengah jam. Namun bagi warga sekitar, hal ini adalah biasa terjadi setiap hari, terutama pada jam-jam sibuk yaitu ketika warga sekitar berangkat kerja pada pagi hari dan pulang kerja pada sore harinya.

Kembali pada kasus tabrakan maut diatas, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati saya. Jika mencari-cari siapa yang bersalah, sudah jelas bahwa si pengemudi mobil tersebut telah melakukan pelanggaran lalu lintas, yaitu dengan sengaja menerobos palang pintu kereta yang sudah nyata-nyata tertutup. Namun demikian, kejadian ini tak bisa dipandang sebelah mata, sebab telah menimbulkan korban jiwa, bahkan 2 orang sekaligus dalam kondisi yang sangat mengenaskan karena hangus terbakar.

Maksud saya adalah tentu pihak terkait dalam hal ini PT KAI tak boleh berpangku tangan dan membiarkan semuanya terjadi dan seolah menilai bahwa kejadian memilukan ini akibat pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengguna jalan semata.

Begini Analisis saya.

Jauh-jauh hari, bahkan puluhan tahun lalu, saya pernah menyampaikan kekesalan saya kepada petugas PT KAI yang kebetulan melakukan kunjungan dinas di lokasi kejadian. Kala itu saya menyampaikan usul atau saran untuk memindahkan titik pemberhentian kereta api, beberapa meter menjauhi palang pintu kereta agar tidak terjadi akumulasi antrian yang berlebihan.

Namun jawaban mereka adalah bahwa harus ada pernyataan secara tertulis dari warga sekitar perihal kondisi ini. Atau dengan kata lain saya harus mengumpulkan tanda-tangan dari warga sekitar terlebuh dahulu, agar usul atau saran warga bisa disampaikan kepada pihak manajemen PT KAI.

Sayapun merasa kesal dengan jawaban itu, sebab pihak manajemen PT KAI seharusnya lebih terbuka terhadap apapun keluhan warga terkait keamanan dan keselamatan bagi warga sekitar pintu perlintasan kereta. Tak perlu mempersulit warga dengan birokrasi yang berbelit-belit, yang akhirnya membuat saya menjadi kecewa dan hanya bisa berharap, semoga apa yang saya bayangkan tak akan pernah terjadi.

Namun setelah sekian puluh tahun dibiarkan tanpa ada perbaikan atas kondisi yang ada, akhirnya apa yang saya khawatirkan itu ternyata benar-benar terjadi pada hari kemarin lusa.

Saya memiliki suatu analisis, mengapa bisa terjadi akumulasi antrian kendaraan di sekitar pintu lintasan KA di Pasar Gaplok ini. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini :

tabrakan maut

Gambar situasi diatas saya buat untuk memberikan ilustrasi bagaimana bisa terjadi akumulasi antrian kendaraan pada pintu lintasan kereta di Pasar Gaplok ini.

Sebagaimana yang biasa terjadi, ketika ada rangkaian kereta yang datang dari arah Jatinegara menuju ke Stasiun Pasar Senen, maka jika kondisi lalulintas yang cukup padat di jalan Let. Jen. Suprapto kearah Cempaka putih dan sebaliknya, biasanya kereta yang akan masuk ke Stasiun Pasar Senen akan berhenti sejenak, menunggu tanda aman untuk berjalan lagi. Posisi rangkaian kereta yang sedang berhenti sebentar tersebut, berada tak jauh dari palang pintu kereta (lihat gambar)

Bisa dilihat pada gambar, dimana rangkaian kereta berhenti dengan posisi Lokomotif tepat pada titik A. Karena rangkaian kereta terdiri dari gerbong yang relatif banyak, antara 8 – 10 gerbong atau terkadang lebih, maka gerbong bagian akhir atau yang terakhir, seringkali masih berada di lokasi palang pintu perlintasan kereta, sehingga pintu kereta belum bisa dibuka.

Posisi ini boleh saya katakan ‘tanggung’, sebab jika rangkaian kereta yang sedang berhenti tersebut bisa dimajukan beberapa meter hingga lokomotif berada pada titik B, maka tentu tidak akan mengganggu jalur lalu lintas, atau dengan kata lain, ketika rangkaian kereta berhenti, maka palang pintu bisa dibuka sebentar, agar dapat membantu mencairkan kepadatan antrian kendaraan di sana.

Namun kondisi seperti tetap berlangsung dan seolah dibiarkan saja terjadi oleh pihak PT KAI sejak puluhan tahun lalu tanpa ada perbaikan sama sekali. Rangkaian kereta yang berhenti pada posisi ‘tanggung’ tersebut, tentu sangat mengganggu pengguna jalan, sebab lalulintas menjadi terhambat dan menimbulkan akumulasi antrian kendaraan yang berlebihan.

Akibatnya adalah terjadi kemacetan yang parah, sebab setelah rangkaian kereta yang berhenti tersebut bergerak menuju ke Stasiun Pasar Senen, maka tiba giliran kereta lainnya yang melintas termasuk Kereta Listrik (KRL) dari kedua arah. Para pengguna jalanpun harus rela menunggu lebih lama dan membuat mereka merasa kesal dan stres ketika menunggu melintasnya 3 atau bahkan 4 rangkaian kereta yang berbeda. Hal ini bisa berlangsung lebih dari setengah jam. Jika terjadi di pagi hari, seringkali membuat warga terlambat masuk kerja.

Oleh karena itulah maka warga setempat, telah terbiasa untuk segera melintasi palang pintu kereta, sebab mereka tak ingin menunggu lebih lama dalam antrian kendaraan. Mereka justru mempercepat laju kendaraan, meski palang pintu sudah diturunkan.

Saya juga sudah sangat sering merasa kesal ketika terjebak dalam antrian panjang, jika kemacetan itu terjadi. Maka dari itulah, puluhan tahun lalu, saya pernah memberanikan diri menyampaikan keluhan dan mengajukan saran kepada patugas PT KAI yang kebetulan berada dilokasi, agar di lakukan relokasi pada titik pemberhentian kereta, untuk mengurangi tingkat kepadatan antrian. Namun apa yang saya usulkan tersebut, sama sekali tidak ditanggapi, hingga akhirnya terjadinya tabrakan maut pada hari kemarin lusa.

Jika sudah terjadi kecelakan yang menimbulkan korban jiwa, barulah pihak PT KAI bertindak. Namun yang disayangkan adalah dengan cara menutup jalan, agar warga tak bisa melintas lagi. Menurut saya, cara-cara seperti ini hanyalah sekadar jalan pintas untuk menyelesaikan suatu masalah dan hal ini jelas mengesampingkan kepentingan para pengguna jalan, yang mana mereka harus mencari jalan memutar dengan jarak yang sangat jauh.

Terkait dengan kecelakan tragis yang terjadi kemarin lusa, seberapa jauh pihak PT KAI bertanggung jawab, sedangkan saya dalam hal ini mewakili warga sekitar sudah berusaha menyampaikan usul terkait keamanan dan keselamatan warga di sekitar lokasi kejadian. Mungkin tak banyak yang mengatahui analisis saya ini, sehingga kejadian tabrakan maut yang terjadi dinilai sebagai akibat dari kelalaian pengguna jalan yang nekad menerobos palang pintu kereta yang sudah tertutup.

Namun menurut saya, masih ada faktor tersembunyi yang bisa jadi, sebagai salah satu penyebab utama terjadinya akumulasi antrian kendaraan pada pintu perlintasan kereta api di Pasar Gaplok, yang selama ini tak pernah dihiraukan lagi.

PT KAI sudah semestinya menyadari akan hal ini dan harus bersedia memberikan santunan yang layak kepada keluarga korban.

Demikianlah semoga bermanfaat.

‘Terkait Tabrakan Maut di Pasar Gaplok, Sejauh Mana PT KAI Bertanggung-jawab?’

Facebook Comment..
Views 41 x, today 3 x

Artikel Terbaru