Artikel Terbaru

Negara Harus Menjamin Kualitas Hidup Mantan Atlit Juara

Betapa menyedihkan bila kita menemukan berita tentang seorang atlit yang semasa mudanya pernah menjadi juara namun di akhir kehidupannya berada pada kondisi kemiskinan. Mereka para mantan atlit juara dari berbagai cabang olahraga tersebut mengalami kesulitan ekonomi bahkan terpaksa menjual medali yang mereka banggakan itu hanya untuk sekadar menyambung hidup. Terlepas dari apapun yang telah terjadi pada kehidupan mantan atlit juara tersebut sehingga membuatnya hidup menderita di hari tua, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga tak boleh tinggal diam.

Berikut ini adalah beberapa mantan atlit juara yang mengalami kehdupan yang tidak layak di masa tuanya;

atlit juara
Soeharto, mantan atlet balap sepeda yang berhasil menyabet medali emas di nomor Team Tome Trial (TTT) Sea Games 1979 di Kuala Lumpur, medali perak di Tour de ISSI 1977, medali perunggu di ROC International Cycling Invitation di Cina pada tahun 1977 sampai dengan medali emas di kejuaraan Walikota Jakarta Utara Cup ini harus menjadi seorang tukang becak di masa tuanya.
Atlit Juara
Marina Segedi, mantan atlet pencak silat yang menyumbang medali emas untuk Indonesia di kejuaraan ASEAN Pencak Silat Kelas A Putri di tahun 1983 yang dihelat di Singapura. kini hidupnya jauh dari apa yang dikatakan nyaman. Hidupnya serba pas-pasan dan harus menumpang di rumah orang tuanya. Agar dapat menghidupi anak-anaknya, Marina harus bekerja sebagai sopir taksi.
Atlit Juara
Leni Haini, berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan menyumbang 2 medali emas dalam kejuaraan perahu naga Asia di Singapura, 3 emas dan 1 perak di kejuaraan dunia perahu naga yang diselenggarakan di Hong Kong sampai dengan medali emas untuk kejuaraan perahu naga Asia di Taiwan. kini hidup memprihatinkan dengan menjadi buruh cuci. Nasibnya yang tragis tersebut ditambah dengan salah seorang anaknya yang menderita penyakit kerapuhan kulit. Dikarenakan hal itu, dia dan suami harus menyediakan setidaknya Rp 1,5 juta setiap bulannya untuk biaya pengobatan.
Atlit Juara
Di era tahun 80-90an, nama Denny Thios sangat bersinar sebagai atlet angkat berat. Tidak hanya penghargaan tingkat nasional saja, Denny juga mengikuti beberapa kejuaraan tingkat internasional. Bahkan dia berhasil menjadi menyabet medali perak di PON XII, medali emas di kejuaraan angkat berat tingkat Asia. Ketika sudah memasuki usia senja, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menopang perekonomian keluarga, Denny harus bekerja sebagai tukang las

Informasi selengkapnya bisa dibaca disini

Semua mantan atlit juara, apalagi yang telah menorehkan prestasi olahraga tingkat internasional, sudah tentu ingin menikmati sisa perjalanan hidupnya dalam kondisi yang layak. Sebagai pahlawan di bidang olahraga yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia international, maka negara berkewajiban untuk menjamin kehidupan di masa tua mereka.

Memang Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Pemuda dan Olah Raga, tentu telah memberikan apresiasi atau penghargaan kepada para atilit juara tersebut  sesaat setelah tampil sebagai juara, selain berupa sertifikat atau tanda jasa, uang pembinaan dll juga bonus berupa uang tunai, rumah/tempat tinggal, kendaraan dll yang nilainya hingga ratusan bahkan miliaran rupiah sesuai dengan tingkat prestasinya. Namun hal ini adalah sebagai bentuk apresiasi yang sifatnya hanya sementara waktu saja. Maksudnya adalah bahwa sang atlit juara tak bisa menikmatinya hingga akhir kehidupannya.

Mengapa demikian? Sebab bentuk apresiasi atau berupa uang tunai, rumah atau kendaraan tersebut diberikan secara lumpsum  (untuk hadiah berupa uang), dan yang berupa rumah atau kendaraan, pemerintah tidak memberikan fasilitas pemeliharaan.

Oleh sebab itu, penghargaan yang berisifat lumpsum tersebut, harus dikelola sendiri oleh atlit juara yang bersangkutan agar tetap memberikan manfaat sebaik-baiknya. Namun demikian, dalam menjalani kehidupan selanjutnya, ada sebagian mantan atlit juara yang mengalami nasib kurang beruntung. Terlepas dari permasalahan apapun yang dialaminya, sebagian mantan atlit juara tersebut mengalami penderitaan dalam kemiskinan pada akhir akhir masa hidupnya.

Sebagaimana yang seringkali di dengung-dengungkan bahwa negara yang besar adalah negara yang bisa menghargai jasa para pahlawannya termasuk pahlawan olah raga, maka pemerintah harus mencari solusi untuk melindungi para mantan atlit juara tersebit, agar tak terjadi lagi kasus seorang mantan atlit juara yang menderita kemiskinan di akhir masa hidupnya.

Jaminan Pemerintah terhadap kualitas hidup para atilit Juara

Terkait hal diatas, maka pemerintah dalam hal ini pihak legislatif harus segara menyusun undang-undang tentang perlindungan terhadap kualitas hidup mantan atlit berprestasi, baik ditingkat daerah, nasional maupun tingkat internasional. Jaminan kualitas hidup kepada mantan atlit juara di tingkat daerah adalah tanggung jawab Pemerintah daerah yang bersangkutan. Demikian halnya untuk tingkat nasional maupun internasional adalah tanggung jawab dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga.

Negara harus menjamin kualitas hidup para mantan atlit juara yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang. Sehingga dengan demkian maka setiap atlit yang berhasil menjadi juara di cabang olah raga manapun, akan memperoleh jaminan kesejahteraan di masa tuanya. Bentuk jaminan terhadap kualitas hidup mantan atlit juara tersebut dapat berupa;

Asuransi dan Jaminan Hari Tua

Salah satu alternatif yang bisa diwujudkan adalah pemerintah menjalin kerjasama dengan pihak perusahaan Asuransi swasta terkemuka ataupun BUMN, untuk memberi jaminan hari tua berbentuk asuransi, yang manfaatnya dapat diatur sesuai dengan keperluan. Misalnya seperti manfaat pensiun yang mana pada usia tertentu, uang asuransi dapat dicairkan dalam jumlah tertentu setiap bulan yang dapat dimanfaatkan oleh para mantan atlit juara. Pemerintah harus menjamin pembayaran atas premi Asuransi tersebut untuk seterusnya hingga atlit ybs meninggal dunia. Di bidang kesehatan, pemerintah harus menjalin kerjasama dengan pihak BPJS, dengan memberikan fasilitas dan layanan khusus untuk para  mantan atlit juara dan seluruh premi yang dibayar atas beban pemerintah. Jadi dengan demikian, semua mantan atlit juara wajib dilindungi oleh negara dengan mengikuti program ini.

Direkrut sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau BUMN

Semua atlit juara pada usia tertentu diberikan kesempatan untuk bekerja sebagai PNS atau pegawai BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah. Hal ini sebagai alternatif perlindungan terhadap kualitas hidup mantan atlit berprestasi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga menjalin koordinasi dengan seluruh PemDa terkait dan seluruh Direksi BUMN yang ada, dalam rangka penempatan para mantan atlit juara tersebut sebagai pegawai di lingkungan PemDa maupun BUMN. Dengan demikian tak ada lagi mantan atlit juara yang menganggur dan akan menerima fasilitas sesuai dengan ketentuan pada masa pensiun nanti.

Demikianlah yang bisa disampaikan sebagai upaya pemerintah untuk melindungi kehidupan para pahlawan olahraga kita dan menjamin kualitas hidup mereka hingga akhir menutup mata.

Penulis : Doni Bastian

Facebook Comment..
Views 155 x, today 1 x

Artikel Terbaru